• Senin, 08 Agustus 2022

Januari - Juli 2022, Ada 175 Kasus TBC di Lampung Barat

Kamis, 04 Agustus 2022 - 15.53 WIB
32

Ilustrasi TBC. Foto : Ist.

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Dinas Kesehatan (Dinkes) Lampung Barat mencatat angka kasus Tuberculosis (TBC) di Bumi Beguai Jejama Sai Betik terus mengalami peningkatan, periode Januari-Juli 2022 tercatat ada sebanyak 175 kasus TBC ditemukan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lambar dr. Widyatmoko Kurniawan melalui Sekretaris Cahyani Susilawati mengatakan bahwa angka tersebut kemungkinan akan terus mengalami kenaikan di banding tahun sebelumnya yang hanya tercatat 247 kasus.

"Karena untuk tahun 2021 saja 247 kasus sedangkan tahun 2022 baru 7 bulan berjalan saja sudah 175 kasus sudah lebih dari setengah dari jumlah tahun sebelumnya dan diprediksikan akan terus mengalami peningkatan beberapa bulan kedepan," kata Cahyani, Kamis (4/8/2022).

Cahyani melanjutkan, TBC merupakan penyakit yang harus diwaspadai sebab bisa berakibat fatal bahkan bisa menyebabkan kematian jika tidak langsung dilakukan penanganan serius. TBC biasanya rentan menyerang bagian organ tubuh manusia seperti paru-paru, tulang belakang, otak kelenjar getah bening dan jantung.

"Penyakit menular TBC ini bisa menyerang melalui udara oleh penderita misalnya ketika bersin atau batuk tidak menutup mulut itu bisa menyebar lewat udara ke masyarakat lain sehingga kuman bisa masuk ke dalam tubuh warga lainnya," kata Cahyani.

Untuk menekan terjadinya peningkatan kasus, pihaknya kini melakukan berbagai upaya pencegahan namun kendala saat ini adalah banyak nya msyarakat yang tidak jujur kepada pihak media terkait kondisi kesehatannya yang menderita TBC.

Kebanyakan masyarakat yang terinfeksi tidak memiliki gejala namun ada beberapa gejala berat yang bisa di tandai dengan batuk hingga sebulan lebih terkadang ada bercak darah, penurunan berat badan, berkeringat di malam hari dan demam.

"Tetapi kebanyakan masyarakat ini tidak mau jujur terhadap kondisi kesehatan nya ketika dilakukan pemeriksaan sehingga kita juga tidak bisa mengidentifikasi apa penyakit yang di derita apakah TBC atau bukan karena masyarakat takut untuk dicek," tuturnya.

Guna mengidentifikasi penyakit menular TBC tersebut ia mengatakan cukup sulit untuk dilakukan apabila masyarakat tidak secara terbuka kepada tim medis, sebab sample yang di butuhkan berupa dahak dari penderita. "Air liur juga bisa cuma sering kali kuman nya tidak teridentifikasi," ungkapnya.

Oleh karena itu pihaknya mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar selalu memeriksakan kondisi kesehatan mereka dan bisa secara jujur menyampaikan apa saja yang menjadi keluhan agar upaya pengobatan dan pencegahan bisa maksimal dilakukan oleh pihak medis sehingga tidak akan berdampak terhadap masyarakat lain. (*)