• Rabu, 28 September 2022

Menolak Ditertibkan, PKL di Metro Barat Minta Solusi Tempat Jualan

Kamis, 21 Juli 2022 - 15.51 WIB
68

Sejumlah petugas Satpol-PP Kota Metro saat melakukan penertiban terhadap satu PKL di bantaran irigasi Jalan Jendral Sudirman. Foto: Arby/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Aksi protes dilayangkan Siti Hawa (52) seorang Pedagang Kaki Lima (PKL) di bantaran saluran irigasi, Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Ganjar Asri, Kecamatan Metro Barat, yang menolak ditertibkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kota Metro, Kamis (21/7/2022).

Dari pantauan Kupastuntas.co di lokasi penertiban, PKL tersebut menolak memindahkan barang dagangannya lantaran tidak memiliki tempat lain untuk berjualan. Terlihat pula sejumlah petugas Satpol-PP yang melakukan dialog meminta PKL tersebut memindahkan barang dagangannya.

Penertiban oleh Satpol-PP tersebut bukan kali pertama dilakukan, sebelumnya Pol-PP Kota Metro telah melakukan penertiban serupa ditempat yang sama. Dari total 7 PKL di bantaran irigasi Jendral Sudirman yang ditertibkan, kini menyisakan satu PKL yang masih enggan dipindahkan.

Kepada awak media, PKL tersebut meminta petugas memberikan solusi dan tidak sekedar melakukan penertiban. Ia mengaku terpaksa berjualan dilokasi tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Saya sudah ngomong untuk minta cari tempat, tapi tidak ada, cuma ngusir saja. Belum ada solusinya sampai sekarang, dari dulu cuma ngusir saja. Saya di sini cari makan, bukan cari kekayaan. Karen saya juga sudah tua. Di sini ada tujuh pedagang, tapi hari ini cuma sisa saya sendiri," bebernya.

Sementara Kasat Pol-PP Kota Metro, Imron, melalui Danton Trantibum Jamani menjelaskan, penertiban yang dilakukan berdasarkan amanat Peraturan Daerah (Perda) nomor 7 tahun 2019 tentang K3.

"Penertiban yang kita lakukan disini sesuai dengan surat imbauan dan surat teguran 1, 2 dan 3 yang sudah tidak di indahkan lagi. Terus PKL juga minta waktu sehari ternyata juga tidak di indahkan lagi, maka hari ini kita lakukan pendekatan agar supaya PKL itu segera pindah," terangnya.

Meskipun telah berulang kali melakukan mediasi, Pol-PP kembali gagal melakukan penertiban lantaran PKL tersebut masih bertahan.

"Terus saat ibu itu mau pindah, entah bagaimana lagi mungkin dia menelefon saudaranya terus disuruh bertahan disini. Jadi untuk sementara dia belum mau pindah dulu, karena dia minta tempat," ucapnya.

Jamani mengaku, setelah berkomunikasi dengan pimpinannya sejumlah petugas Satpol-PP yang melakukan penertiban menarik diri dan tidak melakukan eksekusi.

"Kita telah melakukan pendekatan yang humanis dan kita laksanakan secara baik itu saja. Saya sudah telpon pimpinan, untuk sementara mungkin akan ada musyawarah agar ibu itu bisa pindah. Untuk sementara hari ini tidak ada eksekusi," pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, penertiban yang dilakukan petugas Satpol-PP justru mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat.

Warga menilai, keberadaan PKL di bantaran irigasi tepat di depan Rumah Sakit Mardiwaluyo Metro itu menjadi penyumbang sampah di saluran irigasi.

"Saya sebagai masyarakat menilai keberadaan PKL disini ada sisi baik dan buruknya. Saya kalau mau minum kopi tinggal nyeberang bisa, tapi sisi buruknya sampah ini kurang diperhatikan. Jadi memang harusnya tempat jualannya itu bukan disini," jelas Supriyadi (42), warga Desa Treno Widodo, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran yang singgah di lokasi tersebut.

Penertiban ini lanjutnya, tentunya demi kebaikan bersama, agar sampah juga tidak menumpuk di saluran irigasi. Sampah ini dampak dari pedagang juga, kalau pedagang taat aturan mungkin tempat sekitar tidak akan kotor.

Ia juga mengapresiasi langkah petugas yang dinilai humanis saat melakukan penertiban. Tidak hanya itu, meski gagal menertibkan PKL, tapi langkah Pol-PP menuai pujian dari masyarakat.

"Bapak Pol-PP itu tugasnya memang berat, terkadang masyarakat juga kurang memahami peraturan pemerintah daerah. Saya tidak membela siapa-siapa dan saya hanya masyarakat biasa, saya salut dengan bapak Pol-PP di Metro ini melakukan penertiban dengan pendekatan dan tidak langsung angkut," ungkapnya.

"Penertiban ini sangat kami dukung karena tidak ada kesemrawutan dijalan ini, saya mendukung sekali selama tindakan itu mengedepankan sisi kemanusiaan tidak arogan," pungkasnya. (*)


Video KUPAS TV : Lapak dan Ruko di Pasar Bawah Hangus di Lahap Api