• Senin, 08 Agustus 2022

18 Tahun Tinggal di Gubuk di Tengah Kebun, Thamrin Berharap Bantuan Renovasi Rumah

Rabu, 20 Juli 2022 - 18.18 WIB
155

Thamrin bersama istri dan anak terakhirnya saat ditemui ke kediamannya. Foto: Rahman/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Way Kanan - Kisah keluarga Thamrin sungguh menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Selama 18 tahun dirinya dan keluarga tinggal di gubuk di tengah kebun, berjuang menghidupi keluarganya sebagai buruh tani ditengah hempitan ekonomi yang kian hari terasa semakin berat.

Thamrin yang sudah berusia 62 tahun itu seharusnya sudah tak lagi bekerja, namun apalah daya tuntutan hidup dan dapur mengharuskannya menghabiskan masa tua untuk menghidupi istri dan 3 buah hatinya.

Thamrin adalah warga Desa Banjar Masin, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan yang tinggal di gubuk sederhana.

Saat Kupastuntas.co menuju kediaman Thamrin yang jaraknya hampir 3 kilo dari Jalan Lintas Tengah Sumatra, tampak jalanan disana masih berbatu, di kanan kiri perkebunan warga seakan menyambut siapa saja yang datang, tak lama kemudian sampailah diatas bukit terlihat gubuk sederhana pak Thamrin.

Saat tiba terlihat pak Thamrin sedang duduk istirahat di tangga gubuknya, Ia baru saja selesai bekerja di kebun sambil menikmati secangkir kopi panas.

Gubuk pak Thamrin hanya berukuran kurang lebih 4x6 meter yang terbuat dari papan, bambu, dan ginting, didalam gubuk tidak memiliki kamar, semua menjadi satu, hanya ada pemisah dengan dapur keluarga.

Saat berbincang dengan pak Thamrin, Ia menceritakan pekerjaan dirinya sehari-hari sebagai buruh upah paruh waktu di kebun milik warga setempat yang membutuhkan tenaganya.

Ditengah perbincangan, penulis memperhatikan tubuh pak Thamrin tampak kurus, tulang di badannya kelihatan jelas, selain karena usia, juga sebagai penanda kerja kerasnya selama ini di kebun yang tentu saja membutuhkan tenaga tak sedikit. Tubuh yang seakan berbalut tulang saja itu seakan menjadi saksi, kerasnya kehidupan yang dijalani pak Thamrin demi menghidupi keluarganya.

"Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari ya beginilah pak, kerja upahan di kebun warga, soalnya saya gak punya kebun jadi bisa nya upahan aja, dulu pernah mengurus kebun orang tapi sudah dipulangkan karena hasil kebun nya kurang,"ujarnya saat diwawancarai Kupastuntas.co Rabu (20/07/2022).

Bapak tiga anak itu kembali bercerita, bahwa tanah dan gubuk yang ia tinggali selama ini bukanlah miliknya, melainkan milik saudaranya, disitu Ia hanya menumpang.

"Gubuk dan tanah yang saya tinggali ini bukan punya saya pak, ini punya pak Agus saudara saya, jadi selama ini saya hanya menumpang, dan allhamdulilah pak Agus mempersilahkan ditempati sampai kapan pun," ujarnya.

Pak Thamrin pun melanjutkan ceritanya, ia mengatakan sebelumnya dirinya bukan lah penduduk asli Desa Banjar Masin, melainkan warga desa tetangga yakni Tiuh Balak, dan dirinya baru 5 tahun menjadi warga Desa Banjar Masin.

"Dulu bukan asli warga sini, baru 5 tahun lah bapak pindah warga disini, Ini kan kebun nya berbatasan langsung sama Desa Tiuh Balak, jadi dulu itu bapak ini warga desa tetangga sebelah, karena gubuk tempat bapak tinggal ini berdekatan langsung dengan desa Banjar Masin jadi bapak pindah, karena akses bapak dan banyak keluarga di desa sini itu alasan bapak pindah," tuturnya.

Pak Thamrin memiliki tigak anak, sayangnya anak sulung beliau kini putus sekolah, karena menurutnya mempunyai kelainan atau kekurangan.

"Anak saya yang pertama bernama Aliyah harus putus sekolah pak, dia berenti dari kls 2 SD, harusnya kalau lanjut udah kls 2 SMP ini, tapi karena mengalami kekurangan tidak bisa melanjutkan sekolah," ungkapnya.

Menurut pak Thamrin, Aliyah adalah anak normal seperti anak pada umumnya.   

"Aliyah itu normal pak,  masak dia bisa dan bekerja pun bisa, sering ikut saya upahan juga di kebon, iya tapi itu pak,  kalau kata orang Lampung itu lolok, saya juga gak ngerti pak, dan anak saya yang masih sekolah itu namanya Aliyun, masih SD dia baru KLS 4, dan anak saya yang buntut masih kecil baru umur 2 tahu," tuturnya.

Thamrin mengatakan, dirinya akan terus berjuang sekuat semampunya untuk membahagiakan keluarganya.

"Asal badan saya sehat aja pak,  apapun akan saya lakukan saya jalani, karena saya sudah merasakan pahitnya kehidupan," ungkapnya.

Thamrin bertekad akan tetap tinggal di kebun karena dari kebun lah ia bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan Ia dan keluarganya.

"Iya saya tidak akan pindah dari gubuk ini, kalau memang ada yang ingin membantu saya ingin gubuk saya aja direnovasi, karena genteng sudah banyak yang bocor," ungkapnya.

Thamrin ingin dirinya mendapatkan bantuan bedah rumah seperti orang di desa.

"Kalau bantuan pemerintah saya dapat pak, bantuan PKH itu, tapi kalau bantuan dari Desa Banjar Masin ini saya gak pernah dapat, sudah hampir 5 tahun ini, bahkan lurahnya udah mau abis, saya belum pernah dapat, apa itu bantuan ADD apa itu bantuan Covid saya gak pernah dapet pak," tuturnya.

Namun kenyataan itu tak membuat Thamrin berprasangkan buruk pada Sang Pencipta, Ia tetap bersyukur dengan apa yang dirinya punya sekarang.  

"Sampai sekarang saya masih bersyukur pak, saya masih diberi nafas sama Sang Pencipta, di usia saya yang sudah lanjut ini saya masih bisa bekerja, semoga saya selalu diberi kesehatan," Harapnya.

Sementara itu saat Kupastuntas.co mengonfirmasi  Agus sang pemilik lahan, Ia membenarkan lahan yang gubuk yang ditempati pak Thamrin adalah miliknya.

"Iya tanah itu memang milik keluarga saya, sampai kapan pun pak Thamrin bisa menempati tanah itu, asal jangan dijual, karena itu memang tidak dijual karena peninggalan kakek saya," ujarnya.

Agus mengatakan, ia juga merasa kasihan dengan pak Thamrin, dimana dia harus bekerja Keras dimasa tua nya, menurut Agus harusnya pak Thamrin sudah tidak bekerja lagi.

"Iya harusnya seusia segitu kerja keras gak boleh lagi, kasian badan nya, dan untuk masalah bantuan juga, harusnya pak Thamrin sangat layak mendapat bantuan dari desa Banjar Masin karena dia adalah warga sini juga, jangan karena dia sudah dapet PKH jadi dia tidak boleh dapet bantuan disini, itu juga bantuan PKH dari desa dia sebelum nya, kalau dari desa sini pak Thamrin belum pernah tersentuh bantuan apapun,” tutupnya. (*)