Lampung Jadi Percontohan Penggunaan Frekuensi Radio HF untuk Komunikasi Nelayan
Kementerian Kominfo secara simbolis menyerahkan frekuensi kepada nelayan, di Hotel Novotel, Kamis (14/7/2022). Foto: Siti/kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Provinsi Lampung dipilih oleh Kementerian Kominfo sebagai daerah percontohan frekuensi HF untuk komunikasi nelayan, sehingga tidak menimbulkan gangguan atau interferensi bagi pengguna lain yang bisa membahayakan keselamatan.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo, Dwi Handoko, saat meluncurkan uji coba Frekuensi HF untuk komunikasi nelayan di Hotel Novotel, Kamis (14/07/2022).
Ia mengaku banyak menerima aduan dari frekuensi internasional, seperti Amerika, Jepang, dan Australia, bahwa banyak pesawat yang terganggu saat melintas di Indonesia yang sebagian besar berasal dari nelayan.
"Saat itu kami berikan sosialisasi kepada nelayan agar tidak menggunakan frekuensi yang bukan peruntukannya, tetapi memang belum ada frekuensi khusus untuk nelayan. Jadi sekarang kami coba untuk memfasilitasi dengan memberikan frekuensi khusus nelayan agar bisa berkomunikasi," kata Dwi.
Ia juga mengungkapkan, dipilihnya Lampung sebagai tempat uji coba lantaran telah beberapa kali dilakukan sosialisasi, serta nelayan di Lampung sudah memahami cara penggunaan radio dengan baik dan benar.
"Untuk kedepannya setelah uji coba di Lampung kami akan lanjutkan di wilayah lain yang banyak kantung nelayan, seperti Pantura dan Makasar. Di Lampung ada 50 nelayan yang diberikan bimbingan teknis," tuturnya.
Sementara Kepala Diskominfotik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo mengungkapkan, secara geografis sebagian besar wilayah Lampung memiliki topografi Daerah Pantai dengan luas perairan laut ± 16.625,3 km persegi, dengan panjang garis pantai ± 1.105 km dan jumlah masyarakat nelayan ± 28.540 orang.
Menurutnya, sektor nelayan merupakan salah satu penunjang perekonomian masyarakat terutama yang berada di daerah pesisir pantai. Sehingga alat komunikasi yang aman sangat dibutuhkan oleh para nelayan.
"Ini agar para nelayan dapat menyampaikan informasi yang berkaitan dengan situasi dan kondisi, baik dalam situasi marabahaya atau pun komunikasi dengan unsur nelayan lain, seperti antar kapal nelayan, komunikasi dengan keluarga ataupun yang ada di pelabuhan," terang Ganjar. (*)
Video KUPAS TV : ODGJ di Seputar Kita Bersama dr.Tendry Septa
Berita Lainnya
-
Produk Unggulan Teknik Sipil Teknokrat Curi Perhatian di Innovation Expo 2026, Hadirkan Solusi Infrastruktur Berkelanjutan
Senin, 22 Juni 2026 -
Pemprov Lampung Gelar Nobar Piala Dunia 2026 di PKOR Way Halim
Minggu, 21 Juni 2026 -
Empat Calon Ketua Apindo Lampung Ambil Berkas Pendaftaran
Sabtu, 20 Juni 2026 -
Hadiri Rakernas PJ91, Wagub Jihan Tekankan Budaya Gotong Royong Dukung Pembangunan Daerah
Sabtu, 20 Juni 2026








