• Senin, 08 Agustus 2022

Masyarakat Jawa di Kotaagung Timur Tetap Jaga Tradisi Njenang

Rabu, 13 Juli 2022 - 14.42 WIB
39

Sejumlah warga Dusun Talang Aman Pekon Umbul Buah, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus sedang ngudek jenang. Foto : Sayuti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus - Masyarakat Jawa Dusun Talang Aman Pekon Umbul Buah, dan Pekon Talang Rejo, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus, tetap semangat menjaga tradisi ngudek jenang bersama dalam rangka pernikahan (mantu) maupun ngunduh mantu.

Jenang umumnya dibuat dari tepung beras atau tepung ketan lalu dimasak dengan santan dan ditambahkan gula merah serta gula putih dan bumbu lainnya. Makanan khas ini menjadi simbol doa, harapan, persatuan dan semangat masyarakat Jawa.

Bagi masyarakat Jawa, jenang sudah mengakar sejak zaman Hindu. Tradisi jenang juga ada saat era Walisongo, bahkan sampai masa kini yang dikenal masa era revolusi industri 4.0, era serba digital.

Selain itu tujuan yang tak kalah penting dari tradisi ngulek jenang yaitu sebagai uri-uri budaya yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Bukan hanya keselamatan, tapi warga berharap terciptanya kerukunan umat beragama lebih terjalin.

Seperti Rabu (13/7/2022) sekira pukul 08.00 WIB, puluhan warga berkumpul mengaduk jenang secara bergantian di wajan berukuran besar di kediaman Tugini (65), salah seorang warga Dusun Talang Aman Pekon Umbul Buah, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus, yang akan menggelar acara mantu atau pernikahan.

Mereka membuat 100 kilogram jenang di tiga tunggu berbeda, selama lebih dari tujuh jam. Panasnya cuaca hari itu ditambah api yang membara, membuat tubuh mereka basah oleh peluh. Untuk menjaga jenang tidak gosong, maka secara bergantian mereka ngudek jenang.

Sukratsono (70), salah seorang sesepuh warga setempat mengatakan, gudeg jenang ini menjadi tradisi yang sudah diwariskan selama beberapa generasi yang selalu dilakukan warga untuk menjaga silaturahim serta keguyuban warga.

"Ngecek jenang atau ngejenang yang dalam Bahasa Indonesia berarti mengaduk jenang, sudah ada sejak dahulu kala. Tradisi ini dilakukan saat hajatan pernikahan," kata lelaki yang akrab disapa Mbah Togog ini.

Togog menuturkan, ada filosofi dari ngudek jenang ini, yakni seberat apapun mengaduk jenang ini akan menjadi ringan, karena jenang itu harus dimasak sampai matang dengan sekuat tenaga secara bersama. Disitulah tercipta guyub.

Pembuatan jenang yang membutuhkan waktu tidak sebentar, bahkan bisa berjam-jam dan lama, mengandung harapan pernikahan akan berlangsung lama atau langgeng.

"Sedangkan sifat beras ketan yang lengket mengandung harapan agar pengantin senantiasa lengket atau memiliki hubungan erat dan susah dipisahkan," jelas Togog, yang juga aktif di kesenian Kuda Kepang atau Jaranan ini.

Ditambahkannya, proses pembuatan jenang membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran serta memerlukan kerjasama beberapa orang. Hal ini menimbulkan harapan agar pasangan saat menikah nanti tidak mudah putus asa dalam membangun dan mengarungi rumah tangga.

"Harapannya, pasangan pengantin selalu bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain dalam suka dan duka," ucap Togog.

Suryanto, warga lainnya mengatakan, meskipun jenang bukan makanan wajib di pesta pernikahan, tetapi populer sebagai simbol kebersamaan. Dan sudah menjadi tradisi ketika ada warga yang menggelar pesta pernikahan, para tetangga bergotong-royong seperti memasak, membuat tarub, bubut ayam, mencari daun pisang, menyiapkan makanan dan sebagainya.

Jika kaum wanita sibuk memasak nasi dan lauk pauk maka kaum laki-laki sibuk membuat jenang."Keistimewaan dari jenang adalah rasa kebersamaan dan gotong royong saat proses membuatnya.  Nuansa inilah yang menjadikan jenang lebih nikmat dari jajanan lainnya," ucapnya.

Dalam proses pembuatan jenang nampak warga mengadu campuran tepung beras, tepung ketan, gula jawa dan gula pasir serta kelapa yang dimasak dalam satu wajan besar titik wajan ini ditaruh di atas pawonan atau tunggu yang dibuat mendadak dari bonggo pohon pisang dan berbahan bakar kayu. (*)