• Senin, 27 Juni 2022

Demi Bertahan Hidup, Pensiunan PNS Jadi Tukang Sampah

Jumat, 13 Mei 2022 - 11.41 WIB
260

Senyum Muhammad Maksum (63) saat akan melanjutkan aktivitas memulung di TPAS Karangrejo, Kecamatan Metro Utara. Foto : Arby/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Senyum gembira meski kurang ceria tergambar dari paras wajah puluhan pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Karangrejo, Kecamatan Metro Utara. Mereka menanti harap pada setiap truk yang membawa kontainer berisi sampah.

Di bawah teriknya matahari, puluhan pekerja itupun setia menyisir setiap sisi sampah yang memiliki nilai rupiah. Ditemani bua tak sedap yang menyengat, seolah menjadi parfum yang biasa dihisap.

Dari puluhan Pemulung di TPAS tersebut, pandangan reporter Kupastuntas.co tertuju pada seorang pria tua yang menepi mengais sisa sampah dari Pemulung lainnya.

Dialah Muhammad Maksum, pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Metro itu terpaksa melanjutkan kehidupan dengan cara yang berbeda.

Kepada Kupastuntas.co, pria berusia 63 tahun itu memilih menjadi pemulung untuk mendulang berkah dari sampah dan mewujudkan mimpi kedua anaknya untuk tetap bersekolah. Meskipun seharian berjibaku dengan sampah, namun tidak menyurutkan niatnya untuk membahagiakan keluarga.

Dengan nada pelan, Maksum bercerita soal penghasilan lebih yang didapatnya pasca Idul Fitri 1443 Hijriyah. Menurutnya, muatan sampah yang bernilai ekonomi lebih banyak ditemukan dibandingkan sebelum lebaran. 

"Kalau sebelum lebaran itu banyak, tapi lebih banyak saat habis lebaran ini. Setelah lebaran ini banyak sekali sampah yang bermanfaat yang bisa dijadikan uang, apalagi saat ini plastik bening sudah laku dijual," kata Maksum kepada Kupastuntas.co, Jum'at (13/5/2022).

Sambil sesekali tersenyum dan menampakkan bagian gigi yang ompong itu, pria tersebut mengaku mendapatkan penghasilan bersih pada Minggu ini rata-rata Rp 70 Ribu per hari.

"Habis lebaran ini dapat rata-rata itu Rp 70 Ribu, kalau biasanya itu Rp 50 Ribu. Ya itu hasil kita mulung, kalau setiap hari itu kan rata-rata ada 22 truk sampah yang masuk jadi kita mulung dari setiap truk sampah yang masuk. Kalau pas lagi mujur kadang ada mobil sampah lain masuk," ucap pensiunan PNS golongan 4A itu.

Ditemani lalat yang hinggap pada seluruh bagian tubuhnya, Maksum melanjutkan cerita pengabdiannya selama 12 tahun sebagai PNS pada DLH Kota Metro.

"Sejak TPAS Karangrejo ini dibuka pada tahun 90an, saya sudah disini. Saya tugas disini sudah 12 tahun, dan pada saat itu sudah banyak pemulungnya. Saya memulung ini untuk kebutuhan sehari-hari dan anak-anak sekolah. Anak saya dua masih sekolah semua SMP di Metro," bebernya.

Pria yang juga tinggal di pojok TPAS Karangrejo itu menjelaskan, penghasilan harian didapatnya dari sejumlah sampah daur ulang yang berhasil dikumpulkan.

"Saya sehari rata-rata dapat empat keranjang, sekarang Alhamdulillah abis lebaran dapat lebih. Karena saya juga carinya santai, kalau teman-teman pemulung yang lain bisa dapat lebih banyak. Ku harga plastik bening ini, lapak yang ngambil Rp 1.000 perkilogram. Yang geplek atau bekas teh kotak ini Rp 1.200 dan bekas Aqua itu Rp 2.500 dan setelah lebaran ini paling banyak sampah Aqua," jelasnya.

Meskipun telah pensiun dan kini memilih jadi pemulung, ia berharap kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Metro untuk dapat meneruskan mimpinya melihat kondisi TPAS Karangrejo yang rapih dan tertata.

"Saya itu sudah pensiun, kalau bisa itu atasan itu melihat kondisi sampah di TPAS Karangrejo saat ini bagaimana. Saya dan teman-teman berharap sampah di TPAS ini ditata lebih baik lagi," harapnya.

Di akhir perbincangan, Muhammad Maksum menyampaikan pesan agar Walikota Metro Wahdi dapat kembali meninjau kondisi TPAS Karangrejo serta melihat sejumlah armada rusak dan nyaris terbengkalai.

"Saya harap pak Walikota mau turun kesini dan melihat dengan teliti kondisi disini. Kalau dulu zaman pak Lukman sering turun kesini. Saya harap, pak Walikota melihat juga, itu ada buldozer yang bannya sudah gundul, informasinya sudah dua tahun tidak dianggarkan ban, kalau ban itu bocor sampah bisa sampai keluar jalan," tandasnya.

Begitulah kisah Muhammad Maksum, pria 63 tahun pensiunan PNS golongan 4A pada DLH Kota Metro yang memilih menjadi pemulung di TPAS Karangrejo, untuk melanjutkan hidup dan mimpi kedua buah hatinya. (*)