• Jumat, 01 Juli 2022

Berikut Hewan yang Berpotensi Terkena Penyakit Mulut dan Kuku Serta Gejalanya

Jumat, 13 Mei 2022 - 16.51 WIB
126

Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Pringsewu - Indonesia saat ini kembali dibuat waspada dengan adanya Penyakit Mulut dan Kuku yang menyerang hewan ternak, seperti yang terjadi di Provinsi Jawa Timur dan Aceh.

Lantas apa sebenarnya wabah atau penyakit yang biasa dikenal dengan PMK ini?

Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu, melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Budi Pramono mengatakan, penyakit tersebut diakibatkan oleh serangan virus yang menyerang bagian kuku dan mulut hewan. 

Budi menerangkan, hewan yang berpotensi terkena Penyakit Mulut dan Kuku adalah hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, domba, kerbau hingga babi, dan biasanya hewan yang berusia muda rentan terkena penyakit yang belum ditemukan obatnya.

"Penyakit yang disebabkan oleh virus dan saat ini obat atau vaksinnya belum ada," ujar Budi, saat memberikan keterangan, Jumat (13/5/2022).

Adapun ciri dari hewan yang terkena penyakit ini biasanya mengalami demam, di area mulut hewan akan ditemukan luka seperti sariawan pada manusia baik di gusi dan bibir serta hewan mengeluarkan air liur berlebih.

Lalu bagian sela-sela kaki hewan juga akan ikut membusuk sehingga membuat hewan tidak bisa berjalan dan kemungkinan terparah hewan tersebut akan mati.

"Makanya disebut penyakit mulut dan kuku karena pembusukannya ada di mulut dan kuku. Mulut sakit tidak bisa makan dan minum, kaki mengalami pembusukan hingga membuat hewan roboh tidak bisa berdiri dan lama-lama kalau tidak segera diantisipasi maka akan menyebabkan kematian," paparnya.

Budi menambahkan, angka kematian yang dapat ditimbulkan akibat PMK berkisar 10 persen dari hewan ternak yang ada. Meski tidak begitu besar, namun tingkat penularan penyakit ini tergolong cepat.

"Penyakit PMK secara epidemiologi atau secara teori dan kajian ilmiahnya kasus kematian akibat wabah ini mengancam kematian sekitar 10 persen dari jumlah ternak semua itu pun kalau penangananya baik tetapi angka sakitnya bisa 100 persen. Jadi kalau ada hewan yang mengalami ini bisa menular ke yang lain," jelasnya.

Hal ini tentuntya menjadi atensi semua pihak baik pemerintah, dokter hewan, dinas pertanian dan peternakan, termasuk mereka yang bergelut di dalam dunia peternakan untuk lebih mengencangkan tali pinggang kewasapadaan dan pengendalian agar penyakit ini tidak menyebar luas ke wilayah lain di Indonesia.

"Selain Aceh dan Jawa timur, Jawa barat juga sudah. Makanya Lampung ini masuk dalam masa genting termasuk wilayah Pringsewu," tutupnya. (*)


Video KUPAS TV : PLN PADAMKAN LAMPU ARTERI AKIBAT PEMKOT TUNGGAK IURAN