• Selasa, 28 Juni 2022

Meski Modal Tipis, Petani Rumput Laut di Ketapang Lamsel Mampu Raup Untung Tinggi

Senin, 11 April 2022 - 15.07 WIB
85

Petani Rumput Laut di Desa Legundi Kecamatan Ketapang Lamsel sedang menjemur Rumput Laut yang sudah dipanen. Foto: Imanuel/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Selatan - Meski mengalami keterbatasan modal, petani Rumput Laut di Desa Legundi Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) mampu raup untung tinggi ketika panen tiba.

Salah seorang petani Rumput Laut, Amran Hadi mengatakan, saat ini harga jual Rumput Laut di pasaran terbilang bagus sehingga para petani mampu meraup untung tinggi ketika panen.

Kata dia, harga jual Rumput Laut yang telah dikeringkan saat ini bisa mencapai Rp15.000 sampai Rp20.000 per kilogram.

"Kalau modal Rp10 juta nanti untungnya Rp10 juta. Harga yang asalan itu Rp7.000 seikat (per kilo), kalau yang kering bisa Rp15-20 ribu," katanya, Senin (11/04/2022).

Dia mengungkapkan, saat ini permintaan Rumput Laut cukup tinggi, namun karena keterbatasan modal maka jumlah Rumput Laut yang dijual para petani di Desa Legundi hanya sedikit.

Kata dia, penjualan Rumput Laut mayoritas dikirim ke Pulau Jawa dan berbagai daerah lainnya.

"Kalau yang beli banyak, daerah Jawa sana. Tapi ya kita cuman produksi sedikit karena terkendala modal," tuturnya.

Untuk itu, Amran berharap supaya pemerintah dapat memberikan bantuan tambahan modal lebih banyak dari jumlah bantuan biasanya kepada para petani Rumput Laut.

"Bantuan berapa aja, namanya kita minta bantuan. Ini kita lagi mengajukan di 2022 ini, mudah-mudahan bisa banyak dapatnya," ucapnya.

Dia menjelaskan, bantuan yang biasanya diberikan oleh pemerintah yakni berupa bibit Rumput Laut, Tali dan lain-lain. Jumlah bantuan itu, menurutnya masih sangat kurang karena bantuan yang diberikan itu disalurkan kepada kelompok yang berjumlah 10 orang untuk masing-masing kelompok.

"Kita biasanya bantuan langsung bibit. Kita yang butuhnya permodalan yang banyak, kalau ngasih sedikit contohnya orang 10 dikasih bibit 5 kwintal belum cukup itu. Kalau misalkan 1 ton 1 dikasih tahun ini, ya tahun depan enggak usah lagi, kita kembangkan. Kalau sudah kelompok ini dibantu, kelompok lainnya juga," jelas Ketua Kelompok Petani Rumput Laut Sinar Semendo 1 ini.

Dalam menanam Rumput Laut, kata dia, alat yang dibutuhkan diantaranya Kayu sebagai patok atau pancang, tali sebagai media tanam dan juga bibit.

Untuk mengatasi keterbatasan modal yang ada, para petani menggunakan tali plastik sebagai media tanam. Namun tali plastik itu hanya dapat bertahan sekitar 3 kali panen. Jangka pemakaian itu lebih singkat jika dibandingkan dengan menggunakan tali tambang.

"Ini kita tali plastik biasa, enggak tahan lama. Seharusnya seperti tali tambang itu biar bisa awet. Kita terbatas modal. Yang dibutuhkan itu panjang talinya. Kalau patok itu kita beli kayu pendek yang murah harga Rp1.000-2.000 per potong," tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamsel, Dwi Jatmiko mengatakan, sebenarnya terdapat bantuan pinjaman modal atau kredit bunga ringan kepada para petani Rumput Laut.

Namun, kata dia, pengajuan kredit itu terkendala karena banyak petani yang sebelumnya sudah memiliki kredit atau tunggakan ditempat lain.

"Kita itu ada nyiapkan kredit bunga ringan, tapi kadang-kadang masalahnya itu mereka sudah ada kredit bank atau kredit yang lain. Jadi pengecekannya enggak lulus, ada tunggakan kredit yang lain," katanya.

"Kalau yang enggak terkendala ya bisa diberikan pinjaman kredit bunga ringan dari pemerintah itu dari kementerian langsung," lanjutnya.

Dia menjelaskan, hingga saat ini penyaluran bantuan kepada para petani Rumput Laut di Lamsel masih dalam proses. Dia memastikan bantuan itu akan secepatnya disalurkan kepada para kelompok tani.

 "Ada lah bantuan, berupa bibit dan lain-lain langsung ke kelompok. Enggak setiap tahun bantuan itu ke semua kelompikok, tergantung kondisi juga. Kalau tahun 2022 ini belum ada penyaluran bantuan, masih proses," tandasnya. (*)

Video KUPAS TV : Warga Blokir Jalan Karena Rusak | Adu Mulut Supir vs Warga