• Minggu, 22 Mei 2022

Sejumlah Pedagang Pasar Tradisional di Bandar Lampung Keluhkan Harga Minyak Goreng Rp14.000

Rabu, 26 Januari 2022 - 12.40 WIB
107

Yati, salah satu pedagang di Pasar Kangkung, Bandar Lampung, Rabu (26/1/2022). Foto : Rohmah/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Meski pemerintah pusat meminta pasar tradisional untuk menerapkan satu harga minyak goreng yaitu Rp 14.000 per liter, namun pedagang di Pasar Tradisional mengaku sulit untuk melakukan hal tersebut.

Kebijakan satu harga minyak goreng tersebut di swalayan memang sudah berlaku sejak beberapa hari lalu. Setelah swalayan, pemerintah pusat meminta pasar tradisional untuk memberlakukan harga minyak goreng Rp14.000 per liter mulai hari ini, 26 Januari 2022. 

Menanggapi hal ini, Sujarwo, salah seorang pedagang kelontong di Pasar Pasir Gintung mengatakan, tidak ada perubahan harga minyak di Pasar Tradisional.

“Masih harga lama semua, jadi harga murah di pasar itu tidak ada, cuma di swalayan aja,” kata Sujarwo di tokonya, Rabu (26/1/2022).

Ia mengatakan bahwa hal tersebut dikarenakan distributor masih mematok harga yang tinggi sehingga pedagang eceran tidak bisa menurunkan harga.

“Kita ngambil dari distributornya saja masih tetap dengan harga mahal, seperti Minyak Sanco 2 liter Rp 41.000, Bimoli 2 liter Rp 38.600, dan Minyak Fitri 900 mililiter Rp 18.000, Kalau disuruh jual Rp 14.000 nombok dari mana, kalau ngikutin dari kita ya tidak bisa, kalau dari pabriknya diatur harganya mungkin baru bisa ya” ungkapnya.

Ia juga mengatakan kalau pemerintah bisa mensubsidi harga minyak, mungkin pedagang eceran di pasar bisa menjual minyak goreng dengan harga murah.

“Kalau ada subsidi mungkin bisa ya, kalau tidak ada ya tidak bisa, pedagang kan tidak mau rugi. Pembeli juga masih biasa saja kok, tidak berkurang,” imbuhnya.

Selain itu, Yati, pedagang di Pasar Kangkung mengatakan, dirinya sebagai penjual juga menginginkan harga minyak goreng turun. Kemungkinan pihaknya dapat menurunkan harga apabila ada penurunan harga juga dari distributor minyak goreng.

“Harapan kita kalau bisa di subsidi lah, karena setahu saya, dari tahun ke tahun harga minyak goreng tidak turun-turun. Alasannya biaya produksinya tinggi. Apalagi saya ngambil barang dari Pulau Jawa. Kenapa di pasar tidak mau menurunkan harga minyak goreng, karena dari sananya memang sudah mahal,” tutupnya. (*)