• Rabu, 26 Januari 2022

165 Hektar Sawah di Pringsewu Alami Puso

Senin, 10 Januari 2022 - 15.19 WIB
31

Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Pringsewu - Sebanyak 165 hektar lahan persawahan di Kabupaten Pringsewu mengalami gagal panen atau puso selama 2021.

Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Pangan Dan Hortikultura Dinas Pertanian Pringsewu, Luky Adrian mengatakan, angka di tahun 2021 mengalami kenaikan 60 hektar dibanding pada saat puso di tahun 2020. 

"Untuk tahun 2020 jumlah lahan yang mengalami puso sebanyak 105 hektar," kata Luky Adrian, saat dikonfirmasi kupastuntas.co, Senin (10/1/2022).

Pada tahun 2021 puso yang terjadi diakibatkan oleh banjir dan kekeringan yang melanda lahan persawahan, sedangkan di 2020 hanya diakibatkan oleh banjir. 

Luky melanjutkan, untuk mengatasi permasalahan puso di daerah tadah hujan atau daerah kekeringan, pihaknya berupaya untuk melakukan upaya percepatan tanam yang diharapkan tanam padi yang ditanam terhindar dari puso dan bisa dipanen oleh petani.

Hal itu karena hampir di semua Kecamatan ada wilayah sawah tadah hujan. Jadi salah satu cara untuk menghindari terjadinya puso di wilayah tadah hujan dengan memajukan atau percepatan musim tanam, agar nantinya pada saat padi dalam usia generatif pengisian dia tidak membutuhkan banyak air.

"Selama ini petani kan memiliki kebiasaan sedikit lama untuk menanam kembali benih padi dari rendeng ke gaduh, ada selisih sekitar 2 bulan. Jadi dari lahan mulai dipanen hingga nanti akhirnya tanam kembali ada selisih 2 bulan," lanjutnya.

Lalu, hampir di semua tempat telah melakukan sosialisasi tentang percepatan tanam. Jadi percepatan tanam ini terutama pada saat musim gaduh nanti terhindar dari musim kemarau.

"Dengan adanya percepatan, kita berharap  pada saat memasuki musim kemarau itu padi sudah siap untuk dipanen, terutama pada wilayah-wilayah tadah hujan," lanjutnya.

Pada Desember 2021 lalu, diketahui ada 2 lokasi lahan persawahan di Pringsewu yang terendam banjir yaitu di area Sukoharjo 3 dan Parerejo. Namun tidak menimbulkan puso.

Dinas Pertanian Pringsewu sendiri memiliki 3 cara untuk mengatasi permasalahan puso, yaitu : 

  1. Petani perlu mendaftarkan lahan sawah nya melalui program Asuransi Usaha Tani Padi atau AUTP untuk musim tanam rendeng dan gaduh. Ini berguna bagi petani untuk mendapatkan ganti rugi apabila suatu saat lahan sawah terkena musibah seperti gagal panen akibat banjir, kekeringan, serangan hama dan lainnya. 
  2. Dinas Pertanian akan memberikan bibit kepada petani dari cadangan benih daerah untuk daerah sawah yang tidak tercover atau terlindungi dengan AUTP. 
  3. Melakukan percepatan tanam guna menghindari puso saat musim kemarau. 

Sementara Kasi Pupuk dan Pestisida Dinas Pertanian, Harzon mengatakan, setiap tahun nya lahan persawahan yang dapat dibantu oleh program AUTP sebanyak 2000 hektar dan para petani perlu mendaftar pada aplikasi SIAP saat menjelang musim tanam rendeng dan musim tanam gaduh. 

"Proses pendaftaran melalui apliakasi Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP), jadi itu adalah sebuah aplikasi yang disediakan oleh pihak Jasindo selaku vendor dari asuransinya," ungkapnya.

Selanjutnya setelah didaftarkan sesuai dengan kriteria dari asuransinya sendiri, tinggal melihat kondisi kerusakan di lapangan. Kalau ada indikasi puso atau kerusakan seperti kebanjiran, kekeringan atau serangan hama di lapangan, berhak mengajukan claim asuransi.

Namun, ini tetap bergantung pada hasil survei yang dilakukan dari pihak Jasindo saat mengecek langsung kerusakan lahan di lapangan. (*)


Video KUPAS TV : WARGA RESAH BANYAK PENCURIAN MOTOR DI BANDAR LAMPUNG