• Jumat, 12 Agustus 2022

Bupati Dewi Sebut 90 Persen Bencana di Tanggamus Hidrometeorologi

Selasa, 30 November 2021 - 11.15 WIB
100

Bupati Tanggamus, Dewi Handajani saat melakukan pemeriksaan personel dan peralatan saat apel kesiapsiagaan bencana, di lapangan upacara Pemkab, Selasa (30/11/2021). Foto: Sayuti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus - Bupati Tanggamus, Dewi Handajani menyebut, selama kurun 2002-2020, 90 persen bencana yang terjadi di wilayah Kabupaten Tanggamus adalah bencana Hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, gelombang pasang dan rob.

Bencana Hidrometeorologi adalah bencana yang dipengaruhi atau dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameternya, seperti peningkatan curah hujan, suhu ekstrem, cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang dan kilat atau petir dan lain sebagainya.

"Berdasarkan data BPBD Tanggamus, ancaman bencana hidrometeorologi terus meningkat," kata Dewi, saat memimpin apel kesiapsiagaan bencana sinergitas penanggulangan bencana ekstrim di lapangan upacara Pemkab, Selasa (30/11/2021).

Dewi Handajani menuturkan, puncak musim penghujan diperkirakan akan terjadi pada bulan Januari 2022. Sementara di Tanggamus, pada bulan November dan Desember, curah hujan sudah mulai meningkat hingga di atas normal.

Ditambah lagi adanya fenomena La Nina yang merupakan fenomena suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normal.

"Dampaknya, peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk di wilayah Kabupaten Tanggamus," ucap Dewi.

Dewi menambahkan, kondisi ekstrim sebagai dampak La Nina di pesisir Kabupaten Tanggamus diantaranya, hujan lebat dan pasang air laut yang dapat mengakibatkan banjir pasang (rob), sungai meluap, banjir melebihi batas dan tanggul jebol.

"Sebagai contoh, banjir Rob yang terjadi di perkampungan nelayan Kapuran di Kelurahan Pasarmadang pada 7 November 2021, merupakan salah satu dampak cuaca ekstrem," ujar Dewi.

Kemudian pada akhir tahun 2020 sampai awal tahun 2021, lanjut Dewi, Tanggamus merasakan dampak terhebat akibat curah hujan tinggi, yang mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Semaka, Wonosobo, Bandar Negeri Semuong, Kelumbayan dan lain-lain.

"Banjir dan tanah longsor mengakibatkan rusak dan terendamnya rumah warga, gedung sekolah, jembatan, lahan pertanian, tambak, kolam, termasuk ruas jalan lintas barat," terangnya.

Oleh karena itu, Dewi Handajani menyambut baik apel kesiapsiagaan bencana ini. "Karena ini merupakan wujud sinergitas yang baik semua stakeholder kebencanaan terdiri dari pemerintah bersama pemangku kepentingan dan masyarakat," pungkasnya. (*)


Video KUPAS TV : BELUM ADA YANG MEMAYUNGI KONTEN BERITA DI MEDIA SOSIAL