• Senin, 06 Desember 2021

Seminar Permuseuman Hari Kedua, Wayang Sebagai Wujud Kerinduan Masyarakat Transmigrasi

Rabu, 24 November 2021 - 19.33 WIB
153

Hari kedua seminar Permuseuman yang digelar UPTD Museum Ketransmigrasian Lampung, Rabu (24/11/2021). Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Pesawaran - Pada hari kedua seminar Permuseuman yang digelar UPTD Museum Ketransmigrasian Lampung membahas tentang Wayang Sebagai Wujud Kerinduan Masyarakat Transmigrasi, dengan menghadirkan I Wayan Mustika sebagai narasumber, Rabu (24/11/2021).

Dalam pemaparannya, I Wayan menjelaskan bahwa Wayang adalah 'wewayanganing ngaurip', artinya wayang adalah refleksi kehidupan. Nilai-nilai intangible wayang seperti memayu-hayu bawana (membuat tatanan dunia yang damai), jiwa ksatria, budi luhur, kesempurnaan hidup, harmoni adalah falsafah Timur yang bisa dikaji untuk memperkaya falsafah Barat.

Penyebaran Wayang tidak kurang dari 100 jenis wayang tumbuh dan berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Wayang kulit Purwa berkembang pesat di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Wayang golek Sunda berkembang di Jawa Barat, wayang kulit Parwa di Bali.

"Selain itu wayang juga berkembang di Nusa Tenggara Barat dengan sebutan wayang Sasak, lalu ada Wayang Banjar di Kalimantan Selatan, Wayang Palembang di Sumatera Selatan," ungkap I Wayan Mustika.

Diungkapkan, tercatat 60 jenis wayang dalam data WBTB Indonesia, antara lain Wayang Garing, Wayang Beber Kyai Remeng, Wayang Beber Pacitan, Wayang Kulit Betawi, Wayang Suket, Wayang Thengul, Wayang Wong Mataraman, Wayang Wong Sriwedari, Dramatari Wayang Wong, Wayang Sampir, Wayang Catur, Wayang Pantun dan Wayang golek Cepak Indramayu. 

Kemudian, Wayang Golek Lenong betawi, Wayang Topeng Tengger, Wayang Gung, Wayang Menak Sasak, Wayang Ajen, Wayang Ceplak, Wayang Kulit Majalengka, Wayang Landung, Wayang Parwa, Wayang Sapuh Leger, Wayang Wong Parwa, Wayang Kulit Sekar Kedaton, Wayang Mbah Gandrung dan Wayang Rai Wong.

Lalu Wayang Wong Topeng, Wayang Kancil, Wayang Orang Ngesti Pandowo, Wayang Potehi, Wayang Obrol, Wayang Krucil, Wayang Timplong, Wayang Topeng Malang, Wayang Golek Lebak, Wayang Golek Blora, Wayang Apem, Wayang Gandrung, Wayang Kulit Banjar, dan Wayang Sukadana. (Sumber: Undung Wiyono, Direktorat Kesenian dan Subdit Warisan Budaya Takbenda Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya).

Sementara Kepala UPTD Museum Ketransmigrasian Provinsi Lampung, Hana Kurniati mengatakan, Wayang adalah sebuah wahana/media bercerita yang mengisahkan kepahlawanan para tokoh yang berwatak baik (protagonis) menghadapi tokoh berwatak buruk/jahat (antagonis).

Wayang juga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi masyarakat Jawa, mengingat umur kebudayaan ini sudah hadir sejak beratus´┐ż-ratus tahun lamanya.

"Wayang telah diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Warisan Budaya Mahakarya Tak  Benda sejak tahun 2008," ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat Jawa di tanah rantau melestarikan kebudayaan yang telah dikenal di tanah asalnya. "Mereka membuat wayang di tanah rantau lalu melakukan pertunjukkan juga lengkap dengan seperangkat alat musik pengiringnya. Kegiatan ini tetap dilakukan hingga sekarang," terang Hana.

Ia menambahkan, Museum Ketransmigrasian Lampung memiliki banyak sekali koleksi wayang kulit dengan berbagai tokoh dari beberapa cerita tradisional terkenal di Jawa.

"Juga beberapa kisah/cerita/epos: Kisah Perang Mahabarata (Pandawa melawan Kurawa/Kebaikan melawan Keburukan), Kisah Ramayana (Percintaan Rama dan Sinta). Koleksi wayang didapatkan dari daerah transmigrasi Purwosari, Kabupaten Lampung Tengah,  pada tahun 2012," ungkap Hana. (*)


Video KUPAS TV : TRADISI BERBURU KULINER TRADISONAL MASYARAKAT PRINGSEWU