• Jumat, 29 Oktober 2021

Harga Tidak Pasti, Petani Kopi Tanggamus Beralih ke Tanaman Lain

Kamis, 23 September 2021 - 18.20 WIB
91

Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Tanggamus - Harga kopi yang berfluktiasi dan tidak pasti, mendorong banyak petani kopi di Kabupaten Tanggamus tidak lagi menjadikan kopi sebagai komoditas unggulan dan beralih dengan tanaman lain.

Kondisi itu juga menyebabkan petani kurang bergairah dan produktivitas tidak tinggi, dan kualitas juga rendah. Pola pikir petani juga sangat sederhana, yakni selalu membandingkan dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan, sehingga mudah beralih fungsi.

Selain itu, banyak petani yang latah, dengan ikut trend tanaman yang sedang populer. "Sudah banyak lahan kopi beralih fungsi jadi lahan kakao, porang, kates, pisang, hortikultura dan sebagainya," kata Baryanto (47), petani di sentra penghasil kopi Kecamatan Ulubelu, Kamis (23/9/2021).

Menurut Baryanto, hingga kini petani kopi di Ulubelu dan sentra kopi lainnya seperti Airnaningan, Pulaupanggung, dan Sumberejo, masih berjibaku demi bisa survive di tengah himpitan berbagai persoalan seperti ketidakpastian harga, tata niaga pupuk yang kurang menguntungkan, minimnya sarana dan prasarana, hingga rusak parahnya jalan produksi.

"Anjloknya harga kopi beberapa tahun ini membuat petani kecewa, frustasi, karena kopi secara ekonomi tidak menguntungkan lagi, dan tidak bisa dijadikan andalan menjadi sumber mata pencarian utama keluarga," ujar Baryanto, yang diamini petani lainnya, di ladang kopi di Pekon Datarajan, Ulubelu.

Senada dengan itu, Irin (52), seorang petani kopi di Pekon Datar Lebuay, Kecamatan Airnaningan menuturkan, akibat ketidakpastian harga membuat petani tidak maksimal mengurus kebun kopi.

"Harga dan produktivitas tidak sebanding dengan biaya operasional, sehingga petani bukannya untung tapi malah buntung (rugi)," kata Irin.

Ia mengasumsikan, nilai jual kopi seharusnya 1 kilogram kopi sebanding dengan 3 kilogram beras. "Sekarang ini, satu kilogram kopi yang panen setahun sekali, bila ditukar dengan beras hanya dapet 1,5 kilogram," lanjutnya.

Lani (45), petani kopi di Kecamatan Pulaupanggung mengatakan, kini sebagian petani kopi terpaksa beralih profesi menjadi buruh tani untuk sekedar bertahan hidup, atau mengganti tanaman kopi dengan tanaman lain.

"Kalau kondisi seperti ini terus, petani tidak akan bisa bertahan. Apalagi ditambah dengan tingginya biaya pemeliharaan kebun. Diperparah lagi dengan ongkos mahal, akibat jalan rusak parah," ucapnya.

Sementara Bupati Tanggamus, Dewi Handajani juga merasakan kegundahan. Ia mengatakan, ada permasalahan yang dihadapi petani kopi di daerahnya. Salah satunya adalah ketidakpastian harga di tingkat pengepul, bahkan cenderung mengalami penurunan setiap musim panen raya.

"Hal ini menyebabkan petani kopi melirik komoditas pertanian lainnya. Saya khawatir, kondisi ini bisa mengurangi luas lahan kopi di Tanggamus," kata Dewi, saat menerima kunjungan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Kementerian Pertanian, Dedi Junaidi, di ruang rapat utama Setdakab Tanggamus, Rabu (22/9/2021).

Kondisi ini diperparah dengan ketersediaan peralatan pasca panen dan pengolahan masih minim dibanding luas lahan yang ada. "Sehingga berakibat pada kualitas yang tidak maksimal," terangnya.

Padahal lanjut Dewi, kopi asal Tanggamus sudah dipasarkan dengan beberapa eksportir dan perusahaan pengolahan kopi seperti PT Nestle, PT Mayora, Indomarco, PT Louis Dreyfus Cimmodities, PT Asia Makmur, PT Olam dan Need Coffee.

"Sebagian lainnya dilakukan pengolahan kopi bubuk oleh sejumlah UMKM di Tanggamus, dan dipasarkan lokal maupun dalam daerah di Provinsi Lampung," pungkasnya. (*)


Video KUPAS TV : DISALIP IBU-IBU, TRUK FUSO TERGULING DI SUKARAME