Cerita Porter di Pelabuhan Bakauheni, Terpenting Pulang Sehat dan Bawa Cinta Buat Istri
Cerita Porter di Pelabuhan Bakauheni. Foto: Imanuel/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Lampung Selatan - Sejak terkonfirmasinya virus Corona di Indonesia pada Maret 2020 lalu, hampir seluruh sektor baik itu kesehatan dan ekonomi mengalami dampak yang serius.
Pembatasan-pembatasan kegiatan masyarakat yang diputuskan pemerintah pun sangat berpengaruh pada jalannya roda perekonomian pada pandemi Covid-19 ini.
Transporter atau biasa disebut Porter atau tenaga angkut merupakan salah satu dari banyak pekerjaan yang mengalami dampak yang serius akibat adanya pandemi Covid-19 itu.
Muslimat, salah seorang Porter di pelabuhan ASDP Bakauheni mengaku penghasilannya sebagai pemberi jasa pengangkutan barang penumpang kapal menurun drastis semenjak adanya pandemi.
"Enggak bisa ngomong lagi selama 2 tahun ini mas, kalau dulu sebelum ada Covid-19 cari uang Rp100.000 bisa setengah hari tapi ya capek," katanya, Selasa (31/08/2021).
Dia menceritakan, saat ini penghasilannya perhari paling banyak hanya sebesar Rp50.000, bahkan dia pun kerap pulang dengan membawa tangan kosong.
"Kalau kata istri yang penting pulang sehat sama bawa cinta aja mas buat istri," ujarnya sambil tertawa kecil.
Pria yang sudah selama 10 tahun bekerja sebagai Porter itu pun mengatakan, besaran tarif yang diminta oleh Porter untuk jasa mengangkut barang penumpang kapal tidak menentu, tergantung jarak dan banyaknya barang yang diangkut.
"Kalau kita ya tergantung kesepakatan sama penumpang aja, bisa Rp10.000 sampai Rp20.000. Tapi sering juga kita minta seikhlasnya sama penumpang," ungkapnya.
Dia menambahkan, terdapat sekitar 70 orang yang bekerja sebagai Porter di pelabuhan ASDP Bakauheni. "Total ada 70 an orang, kalau siang bebas kita mau kerja, tapi kalau malam itu ada pembagiannya, 5 shift," jelasnya.
Hal serupa diungkapkan Juari, tenaga porter lainnya, yang mengatakan, penghasilan yang didapat sebagai jasa pengangkut barang selama pandemi turun drastis.
"Sepi bener sekarang ini, kadang tangan kosong pulang ke rumah itu, dapat Rp10.000 ya habis buat makan di pelabuhan," katanya.
Dia juga mengatakan, besaran tarif yang digunakan untuk melakukan pengangkutan barang-barang penumpang adalah berdasarkan jarak dan juga banyak barang yang diangkut.
"Kita rundingan dulu, enggak memaksa sama sekali. Kalau cocok ya berangkat," tutupnya. (*)
Video KUPAS TV : KEPALA DESA PECAT KETUA RT, BERUJUNG MASUK PENGADILAN
Berita Lainnya
-
Edarkan Uang Palsu, Pemuda 18 Tahun Diciduk Polisi di Natar
Selasa, 13 Januari 2026 -
Kapolres Lampung Selatan AKBP Toni Kasmiri Terima Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI
Rabu, 07 Januari 2026 -
Kunker di Karang Anyar, Sudin Edukasi Masyarakat Perihal Hukum, Media Sosial, dan Lingkungan
Rabu, 07 Januari 2026 -
Anggota Komisi III DPR RI Sudin S.E Kunjungan Kerja ke Jati Agung, Bahas Isu Sosial Masyarakat
Rabu, 07 Januari 2026









