• Senin, 21 Juni 2021

Sawah Warga Diserang Tikus, DKP3 Metro Imbau Petani Lakukan 'Gropyokan'

Kamis, 10 Juni 2021 - 16.08 WIB
34

Proses berburu tikus atau Gropyokan menggunakan anjing yang dilakukan Gapoktan Usaha Maju, Margodadi, Metro Selatan. Foto: Arby/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Ancaman gagal panen akibat hama tikus yang menyerang lahan pertanian warga mengharuskan Pemerintah Kota (Pemkot) Metro turun tangan. Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro mengimbau para Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kota setempat untuk gotong-royong mengusir hama tikus atau dikenal dengan gropyokan.

Kepala DKP3 Kota Metro, Hery Wiratno mengatakan, guna meminimalisir kerugian akibat hama tikus yang menjadi momok para petani di musim gadu, ia mengajak Gapoktan bergerak untuk melakukan pengendalian.

"Hama tikus saat ini sedang mewabah di Kota Metro, khususnya di Kecamatan Metro Utara dan Metro Timur. Sementara untuk di Metro Selatan ini kan baru akan dimulai masa tanam. Jadi, harus adanya pengendalian untuk mengusir dan meminimalisir adanya hama tikus maka kami menggerakkan Gapoktan Usaha Maju untuk melakukan gerakan pengendalian atau gerdal dengan cara gropyokan," kata Hery, Kamis (10/6/2021).

Menurut Hery, dengan pengendalian hama sebelum masa tanam, nantinya akan menentukan keberhasilan panen di masa mendatang. 

"Terutama pada hasil yang diraih, kalau hama tikus sudah kita tangani, panen raya akan kita rasakan nantinya," ujarnya usai melakukan Gropyokan di areal persawahan Margodadi, Metro Selatan.

Dalam kesempatan itu, Kepala Pengendali Urganisne Pengganggu Tumbuhan (PUPT) Kota Metro, Selamet mengatakan, dalam pengendalian hama harus dapat menyesuaikan kondisi di lapangan. Terutama hama tikus yang saat ini sedang terjadi di beberapa persawahan di Kota Metro. 

"Kita lihat dulu kondisi lapangan. Seperti di Margodadi ini sudah tepat melakuan gropyokan, karena lahan sawah belum ditanami padi," ucapnya

Menurutnya, ada beberapa metode pengendalian hama tikus. Selain gropyokan, dengan memasang jebakan serta umpan beracun juga dapat meminimalisir perkembangan hama tikus. 

"Jadi, jika sawah sudah ditanami padi yang dilakukan lain lagi. Kita bisa menggunakan perangkap dan racun. Kalau gropyokan sudah pasti mendongkel pematang sawah dan mengakibatkan kerusakan, serta tak jarang petani juga berlarian mengejar tikus yang keluar dari lubang itu," bebernya. 

Namun, jika sudah masuk masa tanam metode yang kita gunakan itu menggunakan cara di bakar dan di berikan umpan beracun dan perangkap. Cara lain mengusir tikus juga dapat menggunakan urine hewan seperti sapi, kambing dan kelinci. 

"Kalau sudah masa tanam tidak harus merusak pematang sawah dan juga tumbuhan. Nah, saat ini kan kita mendongkel pematang dan juga berlarian nanti itu masih bisa diperbaiki lagi. Tikus tidak suka dengan bau urine yang sangat menyengat. Dengan menyemprotkan ke seputar lubang dan pohon padi itu membuat tikus kabur," tandasnya. (*)

Video KUPAS TV : MASSA UNJUK RASA DI KANTOR BUPATI LAMPUNG UTARA!