• Selasa, 13 Januari 2026

Dua Sisi Dampak Sekolah Daring di Tengah Pandemi Covid-19, Oleh Iwan Irawan

Selasa, 27 April 2021 - 06.10 WIB
258

Jurnalis Kupas Tuntas, Iwan Irawan. Foto: Doc/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co - Merebaknya wabah  Covid-19 yang melanda sejumlah negara di belahan dunia tanpa terkecuali Indonesia, tentu tidak hanya berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Pasalnya sektor pendidikan ikut merasakan dampak adanya wabah yang berasal dari Wuhan Cina itu. 

Hingga saat ini, pandemi Covid-19 masih terus mewabah di Indonesia, tak terkecuali Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung. Buktinya per tanggal 26 April 2021, jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten bumi beguai jejama sai betik itu masih terus bertambah.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Satuan Tugas (Satgas) penanganan dan pencegahan Covid-19 Bidang Komunikasi Publik pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat, angka terkonfirmasi Covid-19 mencapai 557 kasus dengan jumlah 22 kasus kematian. 

Guna mengantisipasi penyebaran virus, pemerintah Kabupaten Lampung Barat telah banyak melakukan berbagai upaya mulai dari melarang aktivitas keramaian seperti hajatan atau pesta pernikahan, dan lainnya termasuk memberhentikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka.

Dengan alasan mempertimbangkan roda perekonomian masyarakat agar tetap jalan, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat tetap memperbolehkan pasar dibuka namun tetap memperhatikan kesehatan masyarakat dengan memberlakukan protokol kesehatan secara ketat baik terhadap pedagang maupun pengunjung pasar. 

Seiring berjalan nya waktu, tepat pada tanggal 23 Februari 2021 lalu, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, yang juga ketua Satuan Tugas (Satgas) penanganan dan pencegahan Covid-19 Lampung Barat menginstruksikan melalui surat edaran yang mengatur tentang pemberlakuan aktivitas keramaian.

Dalam surat edaran orang nomor satu di Lampung Barat itu, secara tegas mengatur wilayah yang masuk zona merah dan oranye penyebaran virus corona tidak diperbolehkan melakukan aktivitas keramaian, sedangkan wilayah yang zona hijau atau kuning diperbolehkan dengan catatan menjalankan protokol kesehatan. 

Sejak saat itu pula mulai diberlakukannya KBM tatap muka untuk wilayah yang masuk zona hijau dan kuning, baik sekolah tingkat dasar hingga menengah. Namun sebagian tetap melaksanakan pembelajaran secara daring atau sekolah dari rumah. 

Sekolah dari rumah merupakan istilah dapat mewakili seluruh aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik di rumah masing-masing menggunakan perangkat teknologi yang tersedia. Pembelajaran yang sebelumnya dilaksanakan secara sentral di gedung sekolah harus dialihkan ke rumah akibat Covid-19. 

Pembelajaran selama Sekolah dari Rumah ini menggunakan sistem pembelajaran secara Daring (Dalam Jaringan) atau pembelajaran virtual. Dalam konteks ini, media pembelajaran menjadi instrumen vital dalam penyampaian pesan dalam proses pembelajaran (Sudirman, 2004). Guru menggunakan media untuk memudahkan proses pembelajaran yang dilakukan. 

Selain itu, media juga akan memudahkan peserta didik memahami materi pelajaran yang diberikan. Sebaimana dijelaskan oleh Rusman (2012: 46) bahwa media merupakan alat bagi suatu pekerjaan, sehingga suatu pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik dengan hasil memuaskan.

Dengan demikian, media merupakan sarana penyalur belajar atau penyalur pesan selama proses pembelajaran. Fungsi media pembelajaran dapat mengefektifkan proses pembelajaran karena membangkitkan minat dan motivasi peserta didik mengikuti pembelajaran. Stimulus yang baik juga dapat dihasilkan melalui penggunaan media pembelajaran karena berpengaruh secara psikologis pada diri peserta didik (Sudirman, 2004). 

Media yang lazim digunakan dalam pembelajaran yaitu audio visual, media cetak seperti buku pelajaran, terutama media yang paling klasik seperti papan tulis yang umumnya digunakan guru dalam pembelajaran. Adanya Covid-19 berdampak pada peralihan penggunaan media. Media pembelajaran bertransformasi lebih canggih menggunakan perangkat teknologi jaringan. 

Meskipun dapat menjadi solusi penunjang pembelajaran di tengah pandemi Covid-19, namun terdapat beberapa kelemahan diantaranya; akses jaringan yang tidak lancar, beban biaya data untuk mengakses aplikasi yang mahal, ketidaksiapan guru mengadaptasi teknologi, orang tua yang kurang sinergi dengan guru mendampingi anak belajar di rumah, hingga siswa yang terputus secara emosional dan sosial dengan siswa lainnya. 

Sementara sisi positif yang turut menyertai persoalan ini ialah mampu membuat siswa dan siswi maupun tenaga pendidik untuk menguasai teknologi dalam menunjang aktivitas pembelajaran di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan membuat orang tua lebih mudah dalam mengawasi perkembangan belajar anak secara langsung.

Lebih lanjut, metode pembelajaran tidak bisa dipisahkan dari media pembelajaran karena memiliki hubungan erat. Media yang bagus dan canggih tanpa didukung dengan metode guru yang kreatif akan menjadikan pembelajaran tidak maksimal. Sebagaimana dijelaskan Ghofir, dkk (1983: 79) bahwa metode mengajar menjadi alat mencapai tujuan. Apabila seorang guru kurang tepat memilih metode mengajar akan menyebabkan kekaburan tujuan.  Seorang pendidik juga sangat dituntut menguasai beragam metode pembelajaran, tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga mampu mengoperasionalkan semua metode yang dikuasainya dengan baik. 

Selain itu, Bersekolah dari rumah dengan seluruh rangkaian pembelajaran daring menghidupkan kolaborasi penuh orangtua peserta didik. Orangtua menjadi pengganti guru selama belajar di rumah. Orang tua yang sebelumnya lebih mencurahkan waktunya mencari nafkah kembali mengaktifkan peranannya secara total mengawasi anak di rumah.

Daftar Pustaka : 

Ghofir dkk, Zuhairini Abdul. 1983.

Metode Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional

Rusman. 2012. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. Bandung: Alfabeta.

Sardirman. 2004. Interaksi dan Motifasi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. (*)


Editor :