• Senin, 12 April 2021

Beragam Cerita Petani Sawit di Lamtim, Terombang-Ambing Karena Persoalan Harga

Senin, 05 April 2021 - 12.54 WIB
58

Salah seorang petani sawit menjual sawit pada salah satu pengepul di Kecamatan Labuhan Maringgai. Foto: Agus/Kupastuntas.co

Lampung Timur, Kupastuntas.co - Beragam cerita keluhan petani sawit di Lampung Timur, dari mengalih fungsikan lahan, mengalih fungsikan tanaman hingga mempertahankan tanaman sawit ditengah harga yang tidak menguntungkan petani.

Dari berbagai dampak tersebut tidak lain karena imbas dari harga sawit yang rendah dan kualitas bibit sawit yang buruk, hal tersebut diakui oleh beberapa petani yang ditemui oleh Kupastuntas.co.

Salah seorang petani bernama Lasidi (48) pria berperawakan hitam itu tinggal di Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, dirinya mengaku pernah tidak memanen sawitnya pada 2018 lalu, karena saat itu harga kelapa sawit hanya mencapai 380 rupiah per kilo, sementara untuk melakukan panen Lasidi harus mengeluarkan uang 300 rupiah per kilo untuk upah pemetik buah kelapa sawit.

"Pada 2018 harga sawit benar benar terpuruk, 380 perak sekilo nya, mau dapat apa petani sawit saat itu, saat itu saya tidak memanennya biar busuk di pohon, dari pada panen tapi rugi," ucap Lasidi, pandangannya sembari mengingat masa itu.

Setelah itu, Lasidi memutuskan lahan sawit seluas 3/4 hktare di rombak total, lahan nya dikelola untuk dijadikan lahan pertanian yakni padi, perombakan dilakukan pada Desember 2019 dan Lasidi harus mengluarkan uang 10 juta untuk jasa sewa alat berat guna menumbangkan ratusan batang sawit di lahannya.

"Ya ini solusi yang tepat bagi saya, selama 10 tahun bertani sawit tidak mendapat untung karna harga yang tidak berpihak dengan kami (petani), maka lahan saya alihkan menjadi persawahan untuk bertanam padi," terangnya.

Lain hal yang dilakukan oleh Syamsudin (49) yang juga berdomisili di Labuhan Maringgai, 2019, ratusan batang sawit yang masih produktif diatas lahan seluas satu hektare terpaksa di tumbangkan dengan alat berat yang di sewanya.

Namun Syamsudin tidak menjadikan lahan sawit menjadi lahan pertanian karna dirinya sudah tidak lagi  percaya dengan harga komoditas pertanian yang selalu mencekik petani kala musim panen.

Lahan seluas satu hektare yang hanya berjarak 1,5 kilo dari rumahnya dia gali sedalam tiga meter dengan menggunakan peralatan berat, Syamsudin mencetak petakan petakan dengan luas 10x12 meter untuk dijadikan kolam ikan jenis patin.



"Mungkin saya lebih beralih membudidayakan ikan saja, dari pada bertani sawit, sepertinya harga ikan masih setabil bila dibanding dengan harga komoditas pertanian," terang Syamsudin. 

Syamsudin mulai mengubah lahan pertanian menjadi kolam pada September 2012 biaya yang di keluarkan tidak sedikit, pria dua anak itu harus mengeluarkan modal besar yakni 60 juta untuk merubah lahan.

"60 juta mas modal yang saya keluarkan, bagi petani seperti saya itu tidak sedikit, dan itu juga merupakan spekulasi usaha, alasan saya karena dampak permainan harga komoditas pertanian yang selalu menurun kala panen tiba," jelasnya.

Saat ditanya kenapa tidak dialihkan pada tanaman sehingga tidak mengeluarkan modal besar, Syamsudin menegaskan masih ragu dengan persoalan harga komoditas pertanian, yakni seperti padi misal. 

"Sebenarnya kalau saya alaihkan menjadi tanaman padi modal tidak banyak, hanya tinggal menumbangkan batang sawit dan sedikit merubah lahan, tapi saya juga khawatair harga padi akan trun jika musim panen raya," ungkap Syamsudin.

Namun ada salah satu seorang petani sawit yang masih mempertahankan tanaman nya, hingga saat ini, meskipun beberapa tahun digempur dengan harga kelapa sawit yang tidak bersahabat bagi petani.

Darme pria berperawakan kekar yang tinggal di Kecamatan Braja Selebah, masih mempertahankan lahan sawitnya seluas 50 hektare, bahkan dirinya juga membina petani sawit di kecamatan tersebut.

"Sebenarnya kalau dibilang jnuh dengan harga pasti jenuh, dari 2014 sampai 2019 harga sawit tidak lebih dari seribu rupiah," ucap Darme.

Lanjutnya, dan baru saat ini harga sawit dikatakan berpihak dengan petani, yakni di atas seribu rupiah per kilo. Darme sengaja tetap mempertahankan sawitnya karena merasa lahan yang ditanami sawit jika akan di olah menjadi lahan persawahan cukup mengeluarkan biaya besar.

"Lahan sawit identik dengan lokasi perairan, lahan semacam rawa sehingga kalau saya jadikan sawah berapa modal yang harus saya keluarkan," jelasnya.

Darme menuturkan jika pemerintah dan perusahaan bisa menyepakati harga kelapa sawit minimal 1.500 per kilo maka dipastikan petani sawit akan tetap mempertahankan tanamannya, dan satu persolan jika petani sawit mendapat benih sawit yang kualitasnya sama dengan sawit perusahaan maka hasil produksi kelapa sawit dari petani mandiri akan berlimpah.

"Dua persoalan yang saya utarakan, yakni harga dan kualitas bibit, jika dipenuhi pmerintah makmur petani sawit, dan petani sawit tidak bimbang, dan pasti akan ada dampak kesejahteraan lain yang berhubungan dengan sawit," terang Darme. (*)