• Jumat, 04 April 2025

Budidaya Maggot BSF, Binatang Mirip Belatung yang Memiliki Nilai Pasar Menjanjikan

Selasa, 15 Desember 2020 - 18.51 WIB
1k

Santoso, pria lulusan Universitas Lampung yang berbudidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF), saat menyemprotkan air gula pada ribuan lalat hitam, agar menghasilkan telur berlimpah. Foto: Agus/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Timur - Ribuan ekor Maggot Black Soldier Fly (BSF) yang menyerupai belatung, bergerak menggelikan di atas tanah yang menghitam. Tangan Santoso tanpa menggunakan sarung tangan, bergerak tanpa canggung membalikkan hamparan tanah yang menjadi mediasi perkembang biakan maggot.

Hal itu dilakukan Santoso untuk melihat pertumbuhan binatang menggelikan itu. Bahkan bau sayuran yang sudah mulai membidik dan bercampur tanah tidak menjadi kendala baginya.

Ribuan jentik maggot itu diletakan di sebuah hamparan semen dengan pembatas dinding setinggi 25 centimeter, lebar 0,90 centimeter, panjang 7 meter, yang bercampur dengan tanah.

"Saya masih memiliki 4 kotak. Satu kotak jika dipanen bisa menghasilkan 1,5 kwintal maggot," ujar Santoso, yang tinggal di Desa Sadar Sriwijaya, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, Selasa (15/12/2020).

Berbagai jenis sayuran yang sudah tidak layak dikonsumsi manusia tampak berada dalam plastik ukuran 25 kilogram, siap ditaburkan untuk santapan ribuan binatang menyerupai belatung tersebut. Sayuran tersebut seperti sawi, tomat, kol dan sejenisnya.

"Ini saya dapat dari pasar. Daripada hanya menjadi sampah di pasar, maka saya manfaatkan untuk makanan maggot," ungkap Santoso, sembari menaburkan sayuran itu di atas ribuan maggot yang bersembunyi di balik hamparan tanah.

Sementara di samping rumah Santoso, terdapat dua petak dengan ukuran 1,5 x 1 meter dengan dinding transparan berlubang kecil (strimin). Tampak dari luar ribuan binatang menyerupai lalat, namun ukuran nya sedikit lebih besar.

Di dalam terdapat beberapa lembar daun pisang yang sudah mengering tergantung tepat di tengah. Di setiap sudut terdapat kayu yang dibentuk sedemikian rupa yang berfungsai untuk tempat bertelur.

"Dalam kotak ini namanya lalat hitam, sebagai induk maggot. Jadi nanti setelah telur-telur itu sudah banyak menempel pada sarang yang saya buat, selanjutnya saya pindah di tempat penetasan," terang Santoso.

Santoso menambahkan, lalat hitam tersebut tidak perlu diberi makan apapun. Melainkan hanya disemprot air yang sudah ditaburi gula, karena sifat lalat hitam hanya memakan air yang rasanya manis.

Menengok sebuah ruangan dengan ukuran 4x3 meter, terdapat beberapa media plastik yang berasal dari jerigen ukuran 35 liter dibelah menjadi dua.

Dalam belahan jerigen terdapat gundukan sebesar kepalan tangan orang dewasa. Gundukan itu yakni telur lalat hitam dengan warna menyerupai kuning telur ayam. Telur-telur itu membutuhkan waktu 5 hari untuk menetas menjadi jentik seperti belatung.

"Nanti setelah menetas, saya pindah di tempat lain untuk dibesarkan," lanjutnya.

Pria lulusan Universitas Lampung (Unila) itu, sengaja membudidayakan maggot untuk dijadikan sumber penghasilan.

Menurutnya, hasil dari menjual maggot sangat menjanjikan. Satu kilonya dibandrol Rp15 ribu. Jika maggot-maggot itu digiling menjadi menyerupai tepung, harganya Rp160 ribu per kilonya.

Santoso mengaku, saat ini kewalahan untuk memuji pasar. Sebab jika dituruti dalam satu bulan pemesan maggot bisa tembus 1 ton, sementara hasil budidaya belum tembus dengan ukuran tersebut.

"Kewalahan saya memenuhi pesanan. Karena masih saya kerjakan sendiri dan ini masih dalam tahap percobaan. Semua peralatan masih seadanya," tambahnya, sambil menyusun beberapa kotak plastik tempat telur lalat hitam.

Rata-rata maggot dibeli oleh peternak ayam pejantan untuk dijadikan suplemen makanan khusus. Beberapa peternak penggemukan kambing juga banyak yang mesan maggot giling, untuk dicampur pakan kambing sebagai suplemen pokok. (*)


Video KUPAS TV : CEWEK LEBIH SUKA SAMA BAD BOY, TAPI COWOK MAUNYA SAMA GOOD GIRL! - PART 2