• Selasa, 28 September 2021

Kebijakan Setengah Hati, Oleh Zainal Hidayat, S.H.

Rabu, 15 April 2020 - 07.42 WIB
72

Zainal Hidayat, S.H.

Bung Kupas - Sikap pemerintah dalam menyikapi warga yang hendak melakukan perjalanan mudik, terkesan masih setengah hati. Pemerintah mengimbau warga untuk tidak melakukan mudik, namun juga tidak melarang warga yang akan mudik. Jadinya, hingga kini warga yang melakukan mudik pun tidak bisa dibendung.

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) memprediksi masih akan ada lagi sekitar 1,3 juta warga yang akan melakukan perjalanan mudik sampai lebaran nanti. Tujuan utamanya masih sejumlah provinsi di Pulau Jawa yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur. Tidak ketinggalan, Provinsi Lampung juga akan menjadi daerah tujuan mudik bersama Sumatera Selatan.

MTI memperkirakan jumlah pemudik yang akan masuk Lampung dan Sumsel mencapai 8 persen atau 104 ribu orang. Jika itu benar terjadi, maka mobilisasi orang dari Jabodetabek ke Lampung tentu juga mengandung risiko rawan menyebarkan virus Corona.

Apalagi, saat ini Jakarta menjadi episentrum penyebaran Covid-19, sehingga harus melakukan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).  Usai Jakarta, sejumlah daerah peyangga juga melakukan kebijakan serupa yakni Bogor, Depok dan Bekasi. Tujuannya untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona.

Arus mudik dari Pulau Jawa ke Provinsi Lampung dalam beberapa hari terakhir juga terus mengalir. Terakhir pada Minggu (12/04/2020) hingga Senin (13/04/2020), sedikitnya 532 santri asal Jawa Timur tiba di Terminal Rajabasa, Bandar Lampung. Belum ditambah pada hari-hari sebelumnya.

Yang juga perlu mendapat perhatian, tidak sedikit pemudik dari Pulau Jawa yang masuk ke Lampung akhirnya meninggal dunia akibat terpapar virus Corona. Hal inilah yang terjadi pada seorang wanita dari Tangerang yang akan menuju Padang, yang akhirnya meninggal dunia di RSUD Bob Bazar Kalianda, Lampung Selatan.

Kasus lainnya juga menimpa seorang warga Desa Canggung, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan yang harus meninggal di rumahnya usai pulang dari Bogor. Sebelum meninggal, warga ini juga mengalami panas tinggi. Namun ia belum bisa dipastikan positif Corona, karena masih menunggu hasil pemeriksaan swabnya.

Dua kasus di atas menunjukan, jika pemudik yang pulang kampung memiliki risiko tinggi terinfeksi virus Corona yang bisa menularkan ke anggota keluarganya, kerabatnya hingga tetangga. Apalagi, jika pemeriksaan di pintu-pintu masuk masih lengah, maka warga yang terindikasi terpapar Covid-19 akan mudah lolos dari pengecekan suhu tubuh.

Sekarang semuanya dikembalikan kepada sikap pemerintah. Apakah masih akan terus hanya mengimbau warga untuk tidak mudik tanpa melarangnya, atau bersikap tegas untuk melarang semua warga yang akan mudik. Tidak berlebihaan jika MTI khawatir, selama pemudik masih terus mengalir bisa berpotensi menyebarkan virus Corona dan berpeluang menciptakan episentrum baru di luar Jabodetabek. (*)