• Kamis, 08 Januari 2026

Dinkes Akan Cek Penyebaran Masker Palsu di Pasaran

Senin, 02 Maret 2020 - 21.10 WIB
169

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung Edwin Rusli. Foto: Sri

Sri

Bandar Lampung - Penyebaran virus corona semakin meresahkan banyak orang, bahkan masyarakat pun disarankan untuk tidak menggunakan sembarang jenis masker. Akan tetapi di provinsi lain telah beredar adanya masker palsu.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung Edwin Rusli mengatakan, terkait dengan masker yang palsu-palsu ini pihaknya belum turun ke lapangan ada atau tidaknya. 

"Kita belum turun ke lapangan sih," ungkapnya saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin (2/3/2020).

Edwin mengungkapkan, biasanya yang turun ke lapangan itu dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM).

"Itu jarang dari Dinkes biasanya dari BPOM yang turun. Dan besok kita coba bicara dengan mereka (BPOM)," kata dia.

Terkait masker palsu ini terangnya, apakah sudah sampai Lampung atau belum, pihaknya belum mengetahui. Dan untuk dampak dari masker itu sendiri tergantung.

"Dan masker itu juga dampaknya sebagian kecil aja untuk melindungi manusia. Misalnya virus corona di Lampung ini ada tidak? Kalau tidak ada, ya dampaknya tidak ada juga," terangnya.

Dan untuk mengantisipasinya, pihaknya akan turun ke lapangan, untuk melihat apakah ada atau tidak penyebaran masker palsu tersebut.

"Untuk mengantisipasinya besok kita akan turun, bersama BPOM. Tapi kalau BPOM tidak bersedia nanti kita akan turun sendiri," tutupnya.

Sementara itu, kepala BBPOM Bandar Lampung Tri Suryanto mengatakan, terkait dengan masalah masker itu bukan dari BBPOM, melainkan tugas dari Dinkes.

"Masker itu bukan kita. Kita nggak ngawasin masker, itu kan bukan obat-obatan. Dan itu dari Dinas Kesehatan," ungkapnya.

Ia menjelaskan, BBPOM sendiri hanya terkait dengan obat-obatan dan makanan. Dan masker ini bukan kategori obat.

"Semua punya tugas pokok masing-masing, kalau masalah aspek kesehatan dan sebagainya tentu dari Dinkes yang mempunyai kewenangan bagaimana penanganannya. Kalau obatnya baru dari BPOM," tandasnya. (*)

Editor :