• Sabtu, 16 Mei 2026

12 Hari Tergolek, Dokter Anggap Marhaban Tak Punya Penyakit

Minggu, 02 Februari 2020 - 22.37 WIB
204

Marhaban warga Desa Brajaindah, Kecamatan Brajaselebah, mengalami penyakit aneh yang tidak terdeteksi oleh medis. Foto: Agus/kupastuntas.co

Lampung Timur - Suara adzan maghrib terdengar samar, penerangan boklam listrik berukuran 40 watt, menerangi remang di sebuah ruang, tampak terbaring tak berdaya seorang pria bernama Marhaban, tergolek lemas  di atas "amben" renta. Pria bernasib malang itu merupakan warga Desa Brajaindah, Kecamatan Brajaselebah, Minggu (2/2/2020).

Pria yang tergolek tak berdaya itu, seakan hendak mengeluarkan kata-kata, tapi lidahnya seperti terkunci, matanya memandang kosong menatap langit-langit rumahnya, air infus menetes kecil, butiran air bervitamin itu merasuk dalam tubuh pria tersebut melalui urat tangan, sebagai pengganti makanan.

Seorang perempuan berbaju daster bercorak garis merah, putih menatap penuh belas kasih, tangan kanannya mengelus kening pria yang "tergolek" lemah, perempuan yang sedang hamil 8 bulan itu merupakan istri dari lelaki yang tidak berdaya yang terbaring di samping kanan nya. "Apa mau ngomong apa, mas,” ucap Siti kepada suaminya.

Siti mengatakan, suaminya mulai mengalami pesakitan sudah dua belas hari, dengan kondisi seperti orang "koma", ironisnya ujar Siti, menurut keterangan dokter di Rumah Sakit Umum Kota Metro, pria berumur 32 tahun itu tidak mengalami penyakit apapun.

"Pertama seperti ini tanggal 20 Januari, 12 hari lalu, dan dirawat di Rumah Sakit Umum Kota Metro, kata dokter tidak ada penyakit apa-apa,” ujar Siti.

Sebelum dibawa pulang, pria satu anak itu, setelah di rawat selama 4 hari di RS Umum Kota Metro, dibawa keluarganya ke Natar, Lampung Selatan.

"Lagi-lagi di cek dokter di Natar tidak ada penyakit apapun, tapi anehnya kondisi suami saya tidak bisa ngapa-ngapa,” ujar ibu satu anak itu.

Lanjutnya, setelah dokter bilang tidak ada penyakit dan meminta keluarga untuk membawa pulang saja, akhirnya keluarga memutuskan membawa pulang Marhaban, dan di rumah pun Marhaban hanya bisa berbaring tanpa bergerak.

"Sedikit ada perubahan setelah didoakan oleh pak ustad, namun perubahannya hanya matanya bisa terbuka, sebelumnya terpejam tidak bisa membuka saat di rumah sakit,” ujar perempuan berambut sebahu itu.

Sebenarnya keluarga masih menginginkan Marhaban untuk dirawat di Rumah Sakit, namun karena tidak memiliki BPJS dan tidak mendapat Kartu Indonesia Sehat (KIS), keluarga memutuskan untuk dirawat di rumah dengan pengobatan tradisional. (*)

Editor :