• Senin, 23 Maret 2026

Rindu Gus Dur

Selasa, 07 Januari 2020 - 07.26 WIB
128

Herwanda Pratama. Foto: Doc Kupastuntas.co

Bandar Lampung - Sepuluh tahun setelah wafat, tepatnya 30 Desember 2009 lalu, Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur sampai saat ini masih tetap dikenang .

Presiden ke Empat Republik Indonesia ini dikenal masyarakat sebagai bapak pluralisme karena berani dan konsisten membela kelompok minoritas. Itulah warisan yang tak ternilai yang Gus Dur tinggalkan untuk Indonesia.

Di masa hidupnya, Gus Dur tidak sekedar berbicara demokrasi dan toleransi, namun ia mempraktikkan langsung dalam kehidupan nyata. Saat dia menjabat sebagai Presiden Indonesia, beberapa kebijakannya yang membela minoritas adalah mengakui Konghucu sebaga salah satu agama resmi di Indonesia , dan menjadikan tahun baru China sebagai hari libur nasional, serta menghapus larangan peringatan budaya China.

Bayangkan, mantan Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdhatul Ulama dan cucu pediri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy’hari ini punya pemikiran seperti itu, menganggap semua orang punya hak untuk menganut kepercayaan masing-masing. Gus Dur dibanggakan, Gus Dur dipuja tak hanya sebagai kyai, namun sebagai bapak pluralisme.

Sosok seperti Gus Dur menjadi harapan banyak orang. Pandangan dan sikapnya kini makin relevan ketika intoleransi dan diskirminasi makin meningkat.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik pada tahun 2019 sebanyak 20 dari 34 Provinsi mengalami penurunan kebebasan berkeyakinan. Bahkan hasil penelitian Wahid Institute menunjukkan kenaikan pelanggaran kebebasan berkeyakinan dan beragama, dari 265 kasus pada tahun 2017 menjadi 276 pada tahun 2018.

Satu Dekade meninggalnya Gusdur, mengingatkan kita akan pentingnya sikap saling toleran, bergandengan tangan antar umat beragama, karena Indonesia bukan milik satu agama, namun menyatu dari berbagai agama, suku dan ras. Indonesia kuat karena memiliki rasa persatuan dan bhinneka tunggal ika.

Satu dekade meninggalnya Gusdur semoga lahir gusdur-gusdur baru, yang selalu mengingatkan kita, menginspirasi kita akan pentingnya menghormati keberagaman. Meski berbeda suku, beda budaya, beda agama dan bahkan beda bahasa, tapi kita satu merah putih, satu tanah air yaitu indonesia. (*)

Editor :