Kemarau Jadi Ancaman Gagal Panen Petani Kopi di Ulubelu
Kupastuntas.co, Tanggamus - Petani kopi di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, mengeluhkan dampak kemarau panjang terhadap tanaman kopi mereka yang saat mulai berbuah. Di mana, buah kopi menjadi kehitaman, kering dan hampa.
Padahal, kopi merupakan tanaman perkebunan andalan bagi warga Ulubelu, dan menjadi tumpuan harapan utama warga untuk memenuhi kebutuhan baik untuk makan, biaya pendidikan anak, biaya perawatan tanaman kopi dan sebagainya.
Tetapi karena hujan tak kunjung turun, membuat para petani kopi setempat was-was, dan dihantui ancaman gagal panen. Akibat teriknya sengatan matahari menyebabkan daun kopi menjadi layu dan tak jarang banyak diantaranya yang mulai rontok. Dan yang lebih parah lagi buah kopi menjadi kehitaman, kering dan hampa (tak berisi).
"Sebenarnya kemarau ini berdampak pada bunga kopi yang keluar lebih banyak dari musim sebelumnya. Hanya saja, kalau panas terus seperti saat ini, maka bunga kopi tidak akan berkembang menjadi buah karena keburu gugur dan layu karena kekeringan. Atau kalau sudah jadi buah tapi tidak kena hujan, maka buahnya kehitaman dan tak berisi," kata Wardoyo (47), petani kopi di Pekon Penantian, Kecamatan Ulubelu, Minggu (17/11/2019).
Dikatakannya, cuaca sangat memengaruhi pertumbuhan bakal buah kopi. Cuaca yang terlalu panas atau terlalu sering hujan bisa mengakibatkan panen yang gagal atau kualitas buah tidak bisa memenuhi kualitas standar.
“Tetapi kini pertumbuhannya pun nampak memprihatinkan, sebab tidak kunjung turunnya hujan serta sengatan panas matahari menyebabkan bakal buah ini menjadi kehitaman," kata dia.
Kondisi seperti ini jelas sangat mengkhawatirkan bagi para petani. Setidaknya mereka berharap agar hujan segera turun, sehingga mimpi buruk gagal panen tidak selalu menghantui mereka.
"Kalau hujan tak turun juga, alamat kami gagal panen, atau kalau panen tidak sebanding dengan tenaga dan modal yang dikeluarkan," kata Imron (51), petani kopi di Pekon Ngarip, Kecamatan Ulubelu.
Dikatakan Juni (50), petani kopi di Pekon Tanjung Baru, Kecamatan Ulubelu, bunga kopi yang sudah keluar sekitar semingga dari tangkainya harusnya mulai tersiram hujan. Sehingga bunga terus kuat melekat dan berkembang menjadi putik buah kopi.
Hanya saja menurutnya intensitas hujan juga jangan terlalu sering, karena bunga juga akan mengalami busuk tangkai dan batal menjadi buah.
“Karena kopi berbunga hanya setahun sekali atau sekali dalam satu kali musim, kalau bunganya sudah runtuh sebelum menjadi putik harus menunggu tahun depan lagi,” kata Juni yang juga Kepala Pekon Tanjung Baru ini. (Sayuti)
Berita Lainnya
-
Melonjak, Harga Daging Sapi di Kotaagung Tanggamus Tembus Rp 180 Ribu per Kg
Jumat, 20 Maret 2026 -
Menakar Bursa Bakal Kepala Daerah Tanggamus di Pilkada 2024
Minggu, 17 Maret 2024 -
PDI Perjuangan Amankan Kursi Ketua DPRD Tanggamus Periode 2024-2029
Kamis, 07 Maret 2024 -
Tak Wajar, Perolehan Suara 4 Caleg DPD RI di Tanggamus Capai 800 Lebih di Satu TPS
Sabtu, 17 Februari 2024








