• Minggu, 27 November 2022

Miris, SD Negeri 3 Margakaya Pringsewu Hanya Miliki 16 Siswa dan Belum Miliki WC

Senin, 02 September 2019 - 16.35 WIB
659

Kupastuntas.co, Pringsewu - Pada bulan Juli kemarin, Kabupaten Pringsewu menerima predikat sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) Pratama Tahun 2019. Penghargaan itu diterima langsung Bupati H. Sujadi di Makassar yang diserahkan oleh Menteri PPPA RI Yohana Susana Yembise.

Sayangnya, euphoria predikat (penghargaan) 'kabupaten layak anak' diatas, tidak ikut dirasakan murid Sekolah Dasar (SD) Negeri 3 Pekon Margakaya, Kecamatan Pringsewu, karena sekolah tersebut masih jauh dari kategori layak.

Berdasarkan hasil penelusuran Kupas Tuntas, Senin (2/9), terungkap jika SD Negeri 3 Margakaya belum memiliki fasiltas WC yang ada hanya satu sumur yang juga dimanfaatkan oleh warga yang menempati perumahan sekolah setempat. Disamping itu jumlah siswa SD Negeri 3 Margakaya hanya 16 murid dan bahkan untuk kelas 2 tidak ada murid sama sekali.

Kesenjangan yang dirasakan murid SD Negeri 3 Margakaya tidak terhenti sampai disitu saja, rupanya fasilitas buku pelajaran juga sangat minim di sekolah ini. Yang jadi pertanyaan kenapa bisa sampai demikian? mengingat SD Negeri 3 Margakaya masih berada di wilayah Kecamatan Pringsewu.

Novia Selviana guru honor yang mengajar kelas V SD N 3 Margakaya menceritakan jika sejak dulu memang sekolah ini belum memiliki WC.

"Dulu saya sekolah SD disini masuk kelas I pada tahun 1996, dan sejak 2009 sampai sekarang saya honor ngajar disini tapi WC tak kunjung ada," ujarnya.

Seingat Novia, SD N 3 Margakaya pernah mau dibikin WC melalui program Pansimas dan waktu itu material sudah sempat dikirim namun entah apa alasannya material tersebut diambil kembali. "Waktu itu beredar isu sekolahnya mau tutup sehingga pembangunan toilet digagalkan," paparnya.

Dia mengaku risih dengan kondisi sekolahnya, ditambah lagi 6 guru di sekolah tersebut semuanya perempuan. Menurut dia, jika ada murid atau guru yang mau BAB terpaksa harus pulang atau numpang di toilet warga. "Jika kami (guru) mau buang air kecil di sumur, terpaksa minta tolong biar ditungguin siswi karena takut tiba tiba ada orang yang datang," kata dia.

Terpisah Kepala SD N 3 Margakaya Siti Nurul Qolbi mengaku baru 2 bulan ini menjabat sebagai kepala sekolah. "Sebelumnya saya kepala SD Negeri 2 Margakaya, jadi saya kurang paham kenapa belum ada WC disini. Harapan kami tidak muluk muluk hanya minta perhatian pemerintah," ungkapnya.

Diakatakan Nurul, saat ini jumlah keseluruhan murid SD N 3 Margakaya hanya 16 murid, bahkan untuk kelas 2 tidak ada murid sama sekali sementara kelas I hanya satu siswa, kelas III enam siswa, kelas IV tiga siswa, kelasa V dua siswa dan kelas VI empat siswa. "SD N 3 Margakaya hanya ada 6 guru, 1 PNS, 2 CPNS dan 3 guru honor, guru agama dan guru olahraga belum ada," paparnya.

Menurut dia, sebenarnya SD Negeri 3 Margakaya memiliki 6 ruangan, namun hanya 3 ruangan yang dipakai untuk belajar dan satu ruangan terpaksa disekat. Sedangkan tiga ruangan lainnya sudah tidak layak lagi untuk digunakan karena di bagian pintu, jendela dan plafon sudah rusak berat. "Selain itu ada dua perumahan satu dipakai warga dan satu perumahan lainnya rusak parah," tutupnya.

Kondisi hampir sama juga terjadi di SD Negeri 2 Fajar Agung Kecamatan Pringsewu yakni hanya memiliki 29 siswi. Hanya saja bedanya di sekolah ini sudah tersedia fasilitas WC. Sayangnya kepala sekolah setempat Yuli Farida sedikit kurang terbuka saat disinggung kondisi bangunan Sekolah.

https://youtu.be/rnfxzgKIk7Y

"Sudah pernah datang dari dinas untuk memfoto-foto bagian sekolah yang rusak tapi sampai sekarang belum diperbaiki," ungkap Farida lewat sambungan telepon tanpa menjelaskan bagian sekolah mana saja yang mengalami kerusakan.

Terpisah Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pringsewu Rustian menganjurkan agar pihak sekolah SD Negeri 3 Margakaya segera mengajukan usulan lewat aplikasi data pokok pendidikan (Dapodik) langsung ke pusat. "Mungkin kepala sekolah sebelumya kurang pro aktif, tidak melapor dan tidak membuat usulan. Seharusnya seorang kepala sekolah harus jujur dengan kondisi sekolahnya masing masing," singkatnya. (Manalu)

Editor :