Sapu Lidi Jadi Tumpuan Hidup Nenek Painah
Kupastuntas.co, Lampung Timur - Panas menyengat, waktu menunjukan pukul 10.20 WIB. Terlihat Nenek painah, sesosok perempuan sepuh yang menapakan kakinya perlahan di bawah terik matahari. Butir-butir keringat membasahi wajahnya yang sudah mengeriput, pandangan sayupnya penuh doa mengharap rezeki.
Setapak demi setapak langkah kaki renta itu menelusuri setiap rumah. Tubuh yang sudah sedikit membungkuk karena usia hanya menyisakan sedikit tenaga di usia 70 tahunnya.
Selendang merah sedikit menutupi rambut putihnya, juga menjadi pelindung dari panasnya sengatan matahari. Sesekali ujung selendang diusapkan di muka, membersihkan butir-butir keringat yang ada di wajahnya.
Suara renta "sapu.... sapu" terus keluar dari mulutnya. Nenek sepuh itu mengais rejeki untuk bertahan hidup. Menjual sapu lidi yang dihargai Rp10 ribu perikat.
Tangan kiri membawa 8 ikat sapu lidi, sementara tangan kanan memegang satu ikat yang selalu dijajakan di setiap rumah yang ia singgahi.
"Mbak, sapu 10 ribu, sapu mbak masih banyak ini," tawar nenek.
Terlihat semangat di mata nenek Painah yang tinggal di Desa Brajaharjosari, Kecamatan Brajaselebah, Lampung Timur ini.
"Saya tinggal di Brajaharjosari, saya jual keliling ke rumah rumah," terang Painah dengan logat Jawanya.
Tidak jarang, sapu lidi jualannya tidak laku sama sekali. (Agus)
Caption foto: Nenek 70 tahun lebih, itu masih semangat memanfaatkan sisa sisa tenaga di usia renta, keliling menjual sapu lidi (Agus Susanto)
Berita Lainnya
-
Presiden Prabowo Kucurkan Rp839 Miliar Tangani Konflik Manusia dan Gajah di Way Kambas
Sabtu, 14 Maret 2026 -
Prabowo Siapkan Banpres Bangun Pagar di Way Kambas, Redam Konflik Gajah dan Warga
Jumat, 13 Maret 2026 -
Usai Tembak Teman Saat Main Kartu, Pemuda di Lampung Timur Menyerahkan Diri ke Polisi
Kamis, 12 Maret 2026 -
Petani Was Was Harga Gabah Anjlok Rp 4.500 per Kg di Lampung Timur
Selasa, 02 April 2024








