• Jumat, 24 Mei 2024

Dosen di Lampung Didorong Hasilkan Riset yang Bermanfaat untuk Masyarakat

Kamis, 01 Agustus 2019 - 16.08 WIB
80

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - "Sejauh ini, hanya sekitar 10 persen dari total riset yang memiliki nilai ekonomi, dan 22 persen yang dapat dimanfaatkan oleh pasar."

Dosen dan peneliti didorong untuk menghasilkan riset yang aplikatif atau dapat diterapkan baik di tingkat industri hingga masyarakat umum.

Untuk itu, setiap penelitian yang dilakukan melalui uji Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) seperti yang saat ini diterapkan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Untuk mendorong hal tersebut, Kemenristekdikti dan Itera menggelar Workshop Uji Kasus Perhitungan TKT di kampus Itera, Kamis (1/8/2019). Pemateri dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Drs. Dedi Suhendri, M.Si.

Dedi Suhendri menyampaikan sebuah penelitian harus memiliki nilai inovasi termasuk dapat dimanfaatkan secara langsung dan mampu memenuhi konsep hilirisasi dan komersialisasi. Sebab, menurut Dedi, tidak semua penelitian dapat diaplikasikan.

“Bahkan hanya sekitar 10 persen dari total riset yang memiliki nilai ekonomi, dan sekitar 22 persen yang dapat dimanfaatkan oleh pasar,” jelasnya.

Menurut Dedi, sebuah riset yang hanya konsep di atas kertas memiliki risiko gagal yang tinggi. Sehingga perlu pengujian untuk memastikan riset tersebut layak diterapkan, dan dapat diketahui kendala yang dihadapi saat diterapkan.

Dedi menjabarkan, TKT adalah kondisi kematangan atau kesiapterapan hasil penelitian dan pengembangan teknologi tertentu yang diukur secara sistematis dengan tujuan dapat diadopsi oleh pengguna. Baik oleh pemerintah, Industri hingga masyarakat. TKT menjadi ukuran yang menunjukkan tingkat kesiapan teknologi untuk diaplikasikan, yang diklasifikasikan lewat skala 1 sampai 9.

“Dengan dilakukan pengukuran atau uji TKT, sebuah riset dapat ditawarkan untuk dikerjasamakan dengan pihak industri, sehingga hasil penelitian bisa dipasarkan dan banyak potensi lain yang bisa dikembangkan,” ujar Dedi.

Sementara Direktur Itera International Office (IIO) Acep Purqon,S.Si., M.Si., Ph.D., menyebut workshop penting untuk mengetahui sejauh mana kesiapan teknologi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian di bawah Kemenristekdikti yang ada di Lampung, di tengah perkembangan teknologi global.

“Lampung memiliki SDM IPTEK yang sangat banyak yang ada di perguruan tinggi dan lembaga lain. Sebagai bagian dari perkembangan teknologi global, kita harus tahu bagaimana cara mengukur kesiapan teknologi yang kita dihasilkan,” ujar Acep.

Adapun, Workshop ini diikuti oleh dosen dari Itera, Universitas Lampung, Universitas Bandar Lampung, dan Polinela, serta peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) wilayah Lampung. (Rls)

Editor :