• Minggu, 17 Mei 2026

Jejak Transformasi IAIN Menjadi UIN Raden Intan

Rabu, 12 Desember 2018 - 14.08 WIB
224

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Tak ada proses yang mengkhianati hasil. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan perjuangan Rektor Universitas Raden Intan (UIN) Lampung, Mohamad Mukri. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk mewujudkan transformasi kampus yang dipimpinnya. Dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi UIN.

Mukri mengakui, perjuangan untuk menaikkan kelas IAIN menjadi UIN tidaklah mudah. Ia bersama tim dari Rektorat harus berusaha untuk mendapat rekomendasi dan kepercayaan dari berbagai pihak, bahwa IAIN memang sudah saatnya naik kelas.

Tak hanya Kementerian Agama, pihak Rektorat IAIN saat itu juga harus meyakinkan Kementerian Ristek Dikit, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian PAN RB, Kementerian keuangan, Kementerian dalam Negeri hingga Presiden RI Joko Widodo. Survei dari berbagai lembaga ini pun beberapa kali berkunjung ke kampus hijau di Sukarame itu untuk melihat langsung, apakah sudah layak atau belum transformasi kampus diwujudkan.

Sejak awal diusulkan, seringkali peningkatan status itu terkendala berbagai persyaratan, mulai dari luas lahan, jumlah mahasiswa, administrasi keuangan hingga berbagai persyaratan lainnya. Namun hal itu tak membuat tim yang dipimpin Moh Mukri menyerah. Perlahan tapi pasti mereka memenuhi satu persatu persyaratan yang diminta oleh Pemerintah. Hasilnya, IAIN resmi berubah nama menjadi UIN pada 27 April 2017 lalu.

“Upaya atau perjuangan untuk mentransformasikan institut menjadi universitas memang perlu waktu yang cukup panjang dan melelahkan. Karena persyaratan-persyaratan yang diperlukan itu sangat banyak dan melibatkan banyak pihak. Jadi panjang sekali perjalanan itu,” kenang Mukri.

Jejak-jejak usaha dan kegigihan usaha Mukri untuk mentrasformasi IAIN menjadi UIN dirasa patut diapresiasi. Oleh karena itu, Kupas Tuntas pada malam Kupas Tuntas Awards 2018 bertepatan dengan HUT ke-12 Kupas Tuntas menobatkannya sebagai akademisi Nominasi, Transformasi IAIN Menjadi UIN Raden Intan.

Pihak Rektorat pun beberapa kali sempat bimbang lantaran keputusan dari pihak-pihak terkait belum juga fix. Namun berkat kegigihan tim dalam memperjuangkan, alih status itu akhirnya terwujud, setelah berbagai kementerian menyatakan Kampus IAIN telah memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan.

“Sebelum itu kita sudah berulang kali harus presentasi untuk meyakinkan banyak pihak bahwa ini sudah waktunya dan sudah layak. Dan akhirnya perjuangan yang melelahkan itu terbayar dengan keberhasilan. Tentu bukan hanya saya yang menjadi aktor utama, di balik itu banyak sekali pihak-pihak yang terlibat, terutama tim yang ada di kampus ini. Tanpa kesungguhan mereka semua ini sulit terselenggara,” kata dia.

Setelah berhasil mewujudkan transformasi kampus, Mukri tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan itu. Kini ia terus fokus untuk meningkatkan pembangunan di kampus hijau ini, baik secara kuantitas maupun kualitas. Ia memberikan jargon yang menjadi pedoman bagi seluruh warga kampus “Memberikan yang Terbaik.”

Ketua PWNU Provinsi Lampung ini mengakui sejak menjadi UIN, telah banyak perubahan yang diwujudkan. Berbagai prestasi terus diukir seiring dengan berbagai perbaikan dan evaluasi yang dilakukan terus menerus. Dalam hal pengelolaan keuangan misalnya, UIN Raden Intan menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU) terbaik nomor dua di Indonesia.

“Tahun 2018 kita menjadi PTKIN yang paling diminati nomor satu se-Sumatera. Kemudian kita juga menghasilkan karya tulis ilmiah terbanyak, dan itu dinilai Kemenristek Dikti dan LIPI, kita terbaik nomor tiga se-Indonesia. Setelah Bandung, Jakarta baru Lampung,” beber Mukri.

“Masih banyak capaian lain. Seperti prodi yang belakang ini diakreditasi, 6 dari 8 prodi yang diakreditasi kita mendapat nilai A. Ini salah satu bukti jargon yang  kita pakai itu, memberikan yang terbaik. Kepada siapa? kepada seluruh masyarakat yang sudah percaya kepada UIN Raden Intan,” tandasnya.

Kampus Bertaraf Internasional Tahun 2035

UIN bercita-cita menjadi salah satu kampus bertaraf internasional pada tahun 2035. Untuk mewujudkan itu, tak bisa hanya fokus di bidang infrastruktur, pengembangan akademik juga tentu jadi faktor utama.

Berhasil membawa IAIN bertransformasi menjadi UIN, bukanlah sebuah pencapaian yang perlu dinikmati dengan santai dan berleha-leha. Justeru keberhasilan itu menjadi PR besar bagi pihak rektorat untuk terus berbenah. Kini, UIN sedang fokus untuk menambah berbagai prodi dan juga fakultas umum.

Hal ini tentu bukan langkah yang mudah. Perjuangan mengulang dipastikan akan terjadi jika ingin mewujudkan mimpi tersebut. Mukri bersama timnya tentu akan kembali mengetok pintu-pintu di berbagai Kementerian untuk mengajukan penambahan fasilitas hingga fakultas.

“Ini kita kan sudah balik lagi harus ke Kementistek Dikti, Kemenkumham, Kemenpan RB. Tapi saya tidak akan pernah menyerah. Semua yang ada kita benahi sehingga semua pelayanan, jam kerja, disiplin karyawan. Semua harus lahir di kampus ini,” tuturnya.

Sasarannya, Mukri ingin semua prodi di tahun 2019 minimal separo harus sudah akreditasi A. Ia tak ingin memimpin perguruan tinggi dengan asal-asalan. Semua pihak mulai dari Rektor, Dekan, Kajur, Dosen hingga para Staf harus penuh dengan kesungguhan.

Terkait pembukaan sejumlah Fakultas umum yang sudah diajukan sejak 2 tahun terakhir, Mukri mengaku masih terkendala di pusat, meski sudah diupayakan berkali-kali. Menurut Mukri ada beberapa peraturan di tingkat Kementerian yang tak dapat dicampuri oleh pihak UIN, sebab dalam hal ini, UIN hanya sebagai user. Meski begitu, Mukri tetap berkomitmen akan mewujudkan fakultas umum, seperti Kesehatan dan Kedokteran, Psikologi, Komunikasi, Saintek, serta Adat dan Budaya.

“Ini kita masukkan terus persyaratannya. Karena ada RPT yang belum lahir, yang melahirkan itu kan Kemenag dan Kemenristek Dikti, ini harus satu bahasa di pusat. Kita user dalam hal ini makanya hanya bisa menunggu. Tapi komitmen kami, ini sudah jadi universitas nggak boleh berhenti,” tegas dia.

Moh Mukri menilai, untuk pembukaan lima fakultas umum yang baru, Kampus UIN tak akan over kapasitas alias crowded. Sebab saat ini UIN sudah mendapat hibah tanah seluas 60 ha dari Pemprov Lampung di kawasan Kota Baru Lampung Selatan. Lahan itu lebih luas dari kampus UIN saat ini yang hanya 52 ha. Di saat kampus UIN terus bertumbuh, berbagai pembangunan gedung baru dan fasilitas terus dilengkapi, maka lahan di Kota Baru pasti akan difungsikan.

“Saat kampus kita ini terus bertumbuh, lahan 60 ha itu kita jadikan pengembangan kampus yang berikutnya,” kata dia.

Lahan UIN di Kota Baru masih proses pemecahan sertifikat tanah. Sebab setelah lahan dihibahkan oleh Gubernur M Ridho Ficardo, aset tanah itu harus punya sertifikat tersendiri. Sehingga ke depannya tidak ada masalah yang muncul terkait legalitas kepemilikan lahan.

“Jadi perubahan dari milik pemda menjadi milik UIN. Kalau semua surat-surat sudah selesai, insyallah kita akan mulai bangun. Yang pertama kita  buka mungkin saintek, psiko, dan kesehatan masyarakat. kita akan tetap jalan, nggak boleh berhenti karena sudah UIN. Kita melakukan pembenahan terus menerus.”

Mukri berkata “show must go on”. Perjuangan harus terus dilanjutkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Bumi Lampung. Sebab tanpa ada pendidikan, maka Lampung tak akan pernah bisa mencapai kemajuan. Dalam hal itu, tenaga pengajar tentu menjadi salah satu syarat penting dalam membentuk SDM yang bermutu dan handal.

“Kalau sekarang UIN banyak diminati tentu karena kinerja dan capaiannya. Kita saat ini sudah menghasilkan 45 doktor. Dalam waktu dekat kita akan kukuhkan 3 doktor lagi. Jadi perjuangan ini terus berlanjut, kita nggak boleh kita terhenti, harus bergerak,” tandasnya. ***

Editor :