Mencair dari Dalam, Ada Zona Panas Misterius di Bawah Antartika
Kupastuntas.co, Jakarta - Ada sesuatu yang tidak biasa tersimpan di Antartika. Sebuah studi baru berhasil mengungkapkan adanya zona panas di bawah lapisan esnya Tim peneliti untuk Antartika menemukan hal ini dengan menggunakan data radar pesawat melalui jarak 3 kilometer. Metode ini memberikan gambaran tentang ketebalan, struktur, kondisi lapisan es, dan seluruh lapisannya. Dilaporkan dalam jurnal Scientific Report minggu ini, ukuran zona panas di bawah Antartika berukuran tiga kali lipat luas kota London. Dengan luas tersebut, zona panas ini tidak mungkin hilang dari Antartika dalam waktu dekat. Para peneliti pun mencatat bahwa panas yang ekstrem ini telah menyusutkan area es seluas 100x50 kilometer.
“Ini adalah proyek yang sangat menarik, menjelajahi daerah yang jarang disurvei di planet kita. Hasilnya cukup tidak terduga, karena banyak orang berpikir wilayah Antartika terbuat dari bebatuan es kuno yang tidak memiliki dampak pada lapisan es di atasnya,” ujar penulis utama studi ini Tom Jordan dari British Antarctic Survey (BAS). “Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan di bagian dalam benua kuno, geologi yang mendasari dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap es,” imbuhnya seperti yang diberitakan oleh IFL Science pada Kamis (15/11/2018). Sampai saat ini, belum diketahui berapa lama titik panas tersebut sudah berada di sana. Namun para peneliti yakin, kondisi ini bukanlah hal yang baru. Para peneliti memperkirakan zona panas tersebut sudah ada selama ribuan atau mungkin jutaan tahun. Dengan suhu global yang terus meningkat, wilayah Antartika mungkin menjadi sangat rentan terhadap pencairan di masa depan karena mendapatkan panas dari luar dan dari dalam.
"Proses pelelehan yang kita amati mungkin telah terjadi selama ribuan bahkan jutaan tahun dan tidak secara langsung berkontribusi pada perubahan lapisan es. Di masa depan, air tambahan di lapisan es dapat membuat kawasan ini lebih sensitif terhadap faktor eksternal seperti perubahan iklim," ujar Jordan. Sejauh ini, para peneliti menduga penyebab adanya zona panas tersebut adalah batuan radioaktif serta air panas geotermik yang datang dari bawah tanah. Panas ini melelehkan dasar lapisan es, menghasilkan air lelehan yang mengalir jauh di bawah lapisan es yang mengisi danau subglasial di hilir. Namun, ini masih sekedar hipotesis, pasalnya para peneliti tidak yakin karena tidak dapat mengakses bebatuan. (Kompas)
Berita Lainnya
-
Mahasiswa Universitas Teknokrat Lahirkan Inovasi PLTB Archimedes 3 Sudu untuk Penerangan UMKM Gunung Kunyit
Sabtu, 16 Mei 2026 -
Istri Bripka Anumerta Arya Supena Bersyukur Kasus Cepat Terungkap
Sabtu, 16 Mei 2026 -
Kenangan Rekan untuk Bripka Arya Supena, Polisi Baik yang Gugur saat Bertugas
Sabtu, 16 Mei 2026 -
Perintah Kapolda Lampung Tembak di Tempat Pelaku Begal Tuai Pro dan Kontra
Sabtu, 16 Mei 2026








