22 Menit Menegangkan AKBP Ruli, Obral Peluru Hingga Kebut-kebutan
Kupastuntas.co, Bandarlampung – Aparat Subdit III Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Lampung terlibat aksi kejar-kejaran menggunakan kendaraan roda empat dengan empat bandit jalanan, Selasa (24/7/2018) lalu.
Layaknya film action Fast to Furious, kejadian ini tersebut dilakoni oleh Kepala Subdit III Jatanras AKBP Ruli Andi Yunianto bersama anggotanya. Tak ingin target incarannya kabur, petugas bahkan sempat mengeluarkan tembakan hingga dua kali. Pengejaran yang berlangsung selama 22 menit dari daerah Rajabasa itu berakhir di Jalan Samratulangi, dekat Kantor Dinas Sosial Kota Bandar Lampung.
“Mereka merampas tas seorang ibu yang menunggu anaknya pulang di Sekolah Al-Kautsar. Sempat terjadi tarik menarik tas. Kami yang kebetulan melakukan patroli melihat peristiwa itu lalu mereka kabur dan kami kejar," kata Ruli, Rabu (25/7/2018).
Dari titik awal pengejaran di Rajabasa, para pelaku memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Melihat situasi lokasi yang steril, Doorr! tembakan pertama dilepas mengarah ke ban mobil. Bukannya memilih menyerah, laju kendaraan pelaku semakin menggila. Doorr! Letusan senjata laras pendek diarahkan ke bodi belakang mobil, namun tidak juga bergeming.
“Tembakan kedua membuat laju mereka semakin cepat, mungkin karena mereka panik. Tak jauh dari Kantor Dinas Sosial Kota, mobil mereka menabrak pemotor yang berjualan es keliling," ucapnya.
Akibat kecelakaan tersebut, mobil para pelaku terhenti dan menjadi tontonan masyarakat sekitar. Tiga dari mereka memilih kabur ke pemukiman warga menerobos semak-semak.
“Satu pelaku ada yang tinggal, kami amankan dari dalam mobil. Tiga lagi kabur melarikan diri," imbuh Ruli.
Setelah diamankan, pelaku tersebut bernama Helsa Aditya (27) warga Desa Pemanggilan, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Dari hasil pemeriksaan, perbuatan mereka memiliki modus operandi dengan berpura-pura sebagai penumpang angkutan lalu melakukan penjambretan. Target mereka adalah perempuan, remaja dan ibu-ibu.
Selain itu, terungkap fakta bahwa komplotan tersebut memilih migrasi ke Lampung karena tak dapat beraksi leluasa di Pulau Jawa, khususnya Ibu Kota Jakarta.
“Ini komplotan besar, mewah. Mereka biasa main di Jakarta, mungkin karena di sana petugas ada dimana-mana, akhirnya mereka main ke daerah pinggiran seperti Bandar Lampung,” timpalnya.
Ia menekankan, ketiga pelaku lainnya akan terus diburu oleh aparat Jatanras Polda Lampung hingga kemana pun. (Kardo)
Berita Lainnya
-
55 Tahun Toyota Ada untuk Indonesia: Toyota Luncurkan Berbagai Lini Hybrid EV Terbaru yang Semakin Terjangkau di IIMS 2026
Rabu, 11 Februari 2026 -
Forum DAS Lampung Targetkan Rehabilitasi 300 Ribu Hektare Lahan Kritis dalam 5 Tahun
Rabu, 11 Februari 2026 -
Jam Kerja ASN Bandar Lampung Dipangkas Selama Ramadan, Pulang Pukul 15.00 WIB
Rabu, 11 Februari 2026 -
Pemprov Lampung Kebut 62 Paket Jalan, DPRD Tekankan Spesifikasi dan Kualitas Harus Dijaga
Rabu, 11 Februari 2026









