• Kamis, 09 April 2026

Tabungan Sunyi Seorang Nenek ODGJ

Kamis, 09 April 2026 - 16.41 WIB
60

Tabungan Sunyi Seorang Nenek ODGJ. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Lampung Tengah - Duka itu datang pelan, namun meninggalkan cerita yang begitu dalam. Di Kampung Liman Benawi, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, warga tak hanya kehilangan seorang Lansia, tetapi juga menemukan kisah sunyi yang selama ini tersimpan rapat dalam diam.

Zaimah, seorang nenek yang dikenal sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), ditemukan meninggal dunia di saluran irigasi, pada Rabu (8/4/2026).

Tubuhnya ditemukan dalam posisi tengkurap, diduga terpeleset saat mencuci pakaian, atau aktivitas sederhana yang menjadi bagian dari kesehariannya.

Bagi warga sekitar, Zaimah bukan sosok asing. Ia kerap terlihat berjalan sendiri, menyusuri pasar, menerima uluran tangan dari orang-orang yang iba. Tak banyak kata yang ia ucapkan, namun kehadirannya selalu dikenali

Kepergiannya semula hanya menyisakan duka. Namun, saat jenazahnya dibawa pulang, sebuah fakta menggetarkan terungkap.

Dari balik pakaian yang dikenakannya, keluarga menemukan ratusan lembar uang kertas dengan berbagai nominal. Uang itu tersimpan tersembunyi, seolah menjadi rahasia yang selama ini ia jaga sendiri. Jika ditotal, jumlahnya mencapai lebih dari Rp3 juta.

Di teras rumah warga, lembaran-lembaran uang itu dijemur. Pemandangan itu kemudian viral di media sosial. Bukan sekadar karena jumlahnya, tetapi karena kisah di baliknya.

"Tidak ada yang tahu kalau beliau menyimpan uang sebanyak itu,” ujar Suparmi, menantu korban.

Diduga, uang tersebut berasal dari pemberian warga yang selama ini ia terima. Sedikit demi sedikit, ia kumpulkan. Tanpa tempat yang layak, tanpa ada yang mengetahui, ia simpan di balik pakaian yang selalu melekat di tubuhnya.

Seolah ada rasa aman yang ia temukan dari cara itu, yakni menyimpan 'tabungan' hidupnya dalam diam.

Kini, uang tersebut tidak lagi menjadi rahasia. Keluarga sepakat menggunakannya untuk membiayai pemakaman Zaimah, serta keperluan tahlilan selama masa duka.

Di balik keterbatasan yang dimilikinya, Zaimah meninggalkan pelajaran sederhana namun menggetarkan: tentang bagaimana seseorang, bahkan dalam kesunyian dan keterbatasan, tetap berusaha bertahan dengan caranya sendiri.

Dan pada akhirnya, tabungan kecil yang ia kumpulkan sepanjang hidupnya, justru menjadi bekal terakhir untuk mengantarnya pulang. (*)