Pengamat: MBG Jangan Sampai Geser Fungsi Utama Anggaran Pendidikan
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Lampung, Vincensius Soma Ferrer. Foto: Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi
sorotan setelah diketahui pendanaannya diambil dari anggaran pendidikan dalam
APBN tahun anggaran 2026.
Dari total anggaran pendidikan sebesar Rp769 triliun, sekitar Rp223,5
triliun atau 29 persen dialokasikan untuk program unggulan Presiden Prabowo
Subianto tersebut.
Menanggapi hal ini, pengamat kebijakan publik dari Universitas Lampung,
Vincensius Soma Ferrer, menilai bahwa kebijakan tersebut perlu dikaji secara
hati-hati agar tidak mengganggu prioritas utama sektor pendidikan.
Ia menjelaskan, pemenuhan gizi memang memiliki kontribusi terhadap
peningkatan kualitas belajar, terutama dalam mendukung konsentrasi peserta
didik.
Namun, secara desain kebijakan, program MBG bersifat lintas sektor
(intersectoral) yang seharusnya melibatkan berbagai bidang seperti kesehatan,
sosial, dan ketahanan pangan.
"Ketika pembiayaan program ini dibebankan pada anggaran pendidikan,
maka akan terjadi perluasan tanggung jawab sektor pendidikan yang melampaui
fungsi utamanya," ujarnya saat dimintai keterangan, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, sektor pendidikan memiliki mandat utama yang mencakup
peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan kompetensi guru, pengembangan kurikulum,
hingga penyediaan sarana dan prasarana.
Jika sebagian besar anggaran dialihkan untuk program yang bersifat
pendukung, maka berpotensi mengganggu optimalisasi fungsi tersebut.
BACA JUGA: 223
Triliun Dana Pendidikan Dialihkan untuk MBG, Hampir 30 Persen Anggaran
Pendidikan
Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan ini bisa memunculkan risiko pergeseran
prioritas. Program yang seharusnya mendukung proses belajar justru
dikhawatirkan mengurangi kualitas sistem pendidikan jika tidak dikelola dengan
tepat.
"Jangan sampai kebijakan yang dimaksudkan untuk mendukung semangat
belajar justru menimbulkan konsekuensi yang menurunkan kualitas pendidikan itu
sendiri," katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya transparansi pemerintah dalam
menjelaskan dasar perhitungan dan kebutuhan anggaran MBG kepada publik.
Hal ini dinilai penting untuk menghindari spekulasi serta memastikan bahwa
penggunaan anggaran publik dapat dipahami secara bersama.
"Penjelasan yang komprehensif perlu disampaikan agar tidak menimbulkan
spekulasi di masyarakat, mengingat ini adalah anggaran publik yang
digunakan," pungkasnya. (*)
Berita Lainnya
-
Anak Meninggal Usai Dirawat, Keluarga Laporkan RSIA Puri Betik Hati ke Dinas Kesehatan
Kamis, 26 Februari 2026 -
Yusnadi Gantikan Ade Utami sebagai Ketua Fraksi PKS DPRD Lampung
Kamis, 26 Februari 2026 -
Pemkot Bandar Lampung Gelar Pasar Murah Serentak di 20 Kecamatan, Anggaran Subsidi Capai Rp400 Juta
Kamis, 26 Februari 2026 -
Puluhan Siswa hingga Wali Murid Diduga Keracunan MBG, SPPG Menggala Tengah Akui Belum Kantongi SLHS
Kamis, 26 Februari 2026









