• Senin, 23 Februari 2026

Kasus HIV Capai 333 Orang di Bandar Lampung, DAMAR Desak Penguatan Layanan Kelompok Rentan

Senin, 23 Februari 2026 - 15.42 WIB
21

Direktur Eksekutif DAMAR Lampung, Afrintina. Foto: Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Perkumpulan DAMAR Lampung menyampaikan keprihatinan atas tingginya angka kasus HIV di Kota Bandar Lampung yang mencapai 333 kasus sepanjang tahun 2025. Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan serius bagi penguatan upaya pencegahan dan penanganan HIV, khususnya pada kelompok sasaran Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Direktur Eksekutif DAMAR Lampung, Afrintina, mengatakan kelompok sasaran SPM meliputi ibu hamil, pasien Tuberkulosis (TB), kelompok dengan Infeksi Menular Seksual (IMS), perempuan pekerja seks, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL), waria, pengguna narkoba (NABZA), hingga warga binaan pemasyarakatan.

“Kelompok-kelompok ini memiliki tingkat kerentanan yang berbeda dan membutuhkan pendekatan layanan yang spesifik, ramah, serta bebas stigma,” ujar Afrintina, Senin (23/2/2026).

Ia menilai kasus HIV pada ibu hamil menjadi perhatian khusus karena berkaitan langsung dengan risiko penularan dari ibu ke anak. Oleh sebab itu, skrining HIV perlu diperkuat sebagai bagian dari layanan kesehatan ibu dan anak.

“Skrining HIV pada ibu hamil harus ditingkatkan sebagai bagian dari layanan kesehatan ibu dan anak, bersamaan dengan penguatan program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA),” ungkapnya.

Selain itu, DAMAR menekankan pentingnya integrasi layanan HIV dengan layanan TB dan IMS di seluruh fasilitas kesehatan. Pasien TB dan IMS disebut sebagai kelompok dengan risiko tinggi sehingga membutuhkan deteksi dini serta pendampingan pengobatan secara berkelanjutan.

Afrintina juga menyoroti kelompok perempuan pekerja seks, LSL, waria, pengguna narkoba, serta warga binaan pemasyarakatan yang dinilai membutuhkan pendekatan berbasis komunitas dan strategi harm reduction.

Menurutnya, stigma dan diskriminasi masih menjadi hambatan utama dalam penanggulangan HIV. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat enggan melakukan tes HIV maupun menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin.

“HIV bukan semata persoalan individu, tetapi persoalan sistem layanan, edukasi, dan keberanian negara memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal,” tegasnya.

Sebagai bagian dari Konsorsium TB-HIV Lampung, DAMAR mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor antara Dinas Kesehatan, lembaga pemasyarakatan, organisasi masyarakat sipil, serta komunitas terdampak agar strategi pencegahan dan pengobatan dapat berjalan lebih efektif.

“Pendekatan yang sensitif gender, inklusif, serta berbasis komunitas menjadi kunci untuk menekan angka kasus HIV di Lampung secara berkelanjutan,” katanya.

DAMAR berharap langkah penguatan layanan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dapat memperluas akses pemeriksaan, pengobatan, serta edukasi masyarakat guna menekan laju penularan HIV di masa mendatang. (*)