Jalan Batu Brak–Suoh Rusak Parah, Aktivitas Ekonomi Warga Lampung Barat Ikut Tersendat
Beginilah kondisi jalan Provinsi Ruas Batu Brak-Suoh yang mengalami kerusakan cukup parah dan menghambat aktivitas masyarakat. Foto: Echa/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Lampung Barat - Kondisi jalan Provinsi Lintas
Batu Brak–Suoh di Kabupaten Lampung Barat hingga kini masih memprihatinkan. Di
sejumlah titik, ruas jalan utama tersebut mengalami kerusakan cukup parah dan
belum tersentuh perbaikan menyeluruh.
Kerusakan jalan terlihat jelas di beberapa lokasi yang
menghubungkan Kecamatan Batu Brak, Suoh, dan Bandar Negeri Suoh. Lubang-lubang
besar menganga di badan jalan, sebagian bahkan menutup hampir seluruh jalur
kendaraan.
Kondisi ini menyebabkan akses mobilitas warga menjadi terhambat,
terutama bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonomi pada jalur
tersebut. Jalan itu merupakan urat nadi utama bagi distribusi hasil pertanian
dan kebutuhan pokok warga.
Pantauan di lapangan menunjukkan, pengendara harus ekstra
hati-hati saat melintasi ruas jalan tersebut. Kendaraan roda dua maupun roda
empat terpaksa melaju pelan untuk menghindari lubang yang berpotensi
membahayakan.
Tak jarang, pengendara yang belum hafal kontur jalan di
sepanjang lintas Batu Brak–Suoh hampir mengalami kecelakaan. Lubang jalan yang
tertutup genangan air kerap mengecoh pengendara, terutama saat malam hari atau
hujan turun.
Salah seorang pengendara, Rudi (34), mengaku sering kali merasa
waswas saat melintas di jalur tersebut. Menurutnya, kondisi jalan yang rusak
membuat perjalanan menjadi lebih lama dan berisiko terlebih saat malam hari.
“Kalau sudah malam atau hujan, lubangnya tidak kelihatan. Sudah
sering hampir jatuh, apalagi yang baru pertama lewat sini,” ujar Rudi kepada
Kupas Tuntas saat ditemui di lokasi, Senin (23/2/2026).
Hal senada disampaikan Asep warga Batu Brak, yang sehari-hari
melintasi jalan tersebut untuk berdagang sayuran. Ia menyebut kerusakan jalan
berdampak langsung pada pendapatannya. “Jalan rusak bikin ongkos naik, waktu
tempuh lama," kata dia.
Selain kerusakan jalan, kondisi jembatan Sebatuan Balak di ruas
lintas tersebut juga dinilai sangat mengkhawatirkan. Pada salah satu sisi
jembatan terlihat longsoran tanah yang hampir memakan badan jalan.
Longsoran tersebut membuat lebar jalan semakin menyempit dan berpotensi
membahayakan pengendara yang melintas. Terlebih, jembatan itu merupakan
satu-satunya akses penghubung antarwilayah di kawasan tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, pihak terkait telah memasang garis
polisi di sekitar lokasi longsoran. Pemasangan itu bertujuan agar pengendara
lebih waspada saat melintas di area rawan tersebut.
Namun demikian, warga menilai pemasangan garis polisi hanya
bersifat sementara dan tidak menyelesaikan persoalan utama. Mereka khawatir
longsoran akan semakin meluas jika tidak segera ditangani. “Kalau hujan deras,
tanahnya makin turun. Kami takut suatu hari jalan ini benar-benar putus,”
ungkap Andi (45), pengendara lain.
Warga menyebut, kerusakan jalan dan jembatan tersebut sudah
berlangsung cukup lama tanpa penanganan signifikan. Kondisi itu dinilai
mencerminkan kurangnya perhatian terhadap infrastruktur di wilayah tersebut.
Padahal, ruas jalan Provinsi Lintas Batu Brak–Suoh merupakan
jalur utama masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian, seperti kopi, sayuran,
dan komoditas lainnya menuju pusat pasar.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, warga menilai dampaknya tidak
hanya pada keselamatan, tetapi juga pada roda perekonomian masyarakat yang
semakin terhambat.
Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi segera turun tangan untuk
memperbaiki kerusakan jalan dan jembatan tersebut secara menyeluruh.
Warga juga membandingkan dengan sejumlah ruas jalan provinsi
lain yang lebih dulu dibangun dan kini kondisinya jauh lebih baik. Mereka
berharap perlakuan serupa bisa dirasakan di wilayah Batu Brak–Suoh. “Kami cuma
ingin jalan yang layak, seperti daerah lain. Ini jalan utama, bukan jalan
kebun,” kata seorang warga setempat.
Menurut warga, perbaikan tidak hanya sebatas tambal sulam,
melainkan harus dilakukan secara permanen agar tidak cepat rusak kembali.
Hingga kini, masyarakat dan pengendara hanya bisa berharap
adanya perhatian serius dari pemerintah agar akses utama tersebut kembali aman,
nyaman, dan mampu menunjang aktivitas ekonomi warga secara berkelanjutan. (*)
Berita Lainnya
-
Sensus Ekonomi Digelar Serentak Mei-Juli 2026, Bupati Lampung Barat Tekankan Akurasi Data
Senin, 23 Februari 2026 -
WALHI Desak Evaluasi Revitalisasi Danau Asam, Penyusutan Air Dinilai Mengkhawatirkan
Senin, 23 Februari 2026 -
Kumpulkan Kepala SPPG se-Lampung Barat, Bupati Warning Soal Sampah dan Kebersihan Lingkungan
Senin, 23 Februari 2026 -
Diduga Dampak Proyek Revitalisasi, Destinasi Wisata Danau Asam Suoh Terancam Kering
Minggu, 22 Februari 2026









