Pengamat Nilai Setahun Mirza–Jihan Masih Fase Stabilisasi, Tahun Kedua Jadi Ujian Kinerja
Pengamat kebijakan publik Universitas Lampung, Vincensius Soma Ferrer. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Bandar
Lampung - Memasuki satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung,
Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela, capaian kinerja dinilai masih berada
pada tahap stabilisasi dan belum menunjukkan akselerasi signifikan.
Pengamat kebijakan
publik Universitas Lampung, Vincensius Soma Ferrer, mengatakan ukuran umum
dalam menilai tahun pertama kepala daerah adalah konsistensi terhadap janji
kampanye. Dalam konteks Mirza–Jihan, janji tersebut terangkum dalam visi
“Lampung Maju” yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi.
“Kalau melihat satu
tahun masa kepemimpinan, yang paling utama dinilai adalah konsistensi terhadap
janji kampanye. Karena orientasi mereka pada pertumbuhan ekonomi, maka
penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi rakyat menjadi aspek sentral
untuk dievaluasi,” ujar Soma saat dimintai tanggapan kamis (19/2/26).
Ia mengakui, dari
sisi makro, pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2025 tergolong cukup baik, berada
di kisaran 5,2 persen. Namun, menurutnya, capaian itu belum sepenuhnya sejalan
dengan penyerapan tenaga kerja lokal.
Berdasarkan data
Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) Provinsi
Lampung per Agustus 2025 tercatat 4,21 persen, naik tipis dibandingkan Agustus
2024 yang berada di angka 4,19 persen.
“Artinya, pertumbuhan
ekonomi belum sepenuhnya berdampak pada perluasan kesempatan kerja. Ini
menunjukkan kebijakan yang ada masih dalam tahap stabilisasi, belum pada fase
akselerasi yang saling terhubung,” jelasnya.
Selain itu, ia
menyoroti tantangan lain yang dihadapi Pemerintah Provinsi Lampung, yakni
kuatnya dominasi agenda nasional di daerah. Program seperti Makan Bergizi
Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dinilai secara politik
lebih menonjol sehingga berpotensi menutup identitas kebijakan daerah.
“Konteks eksternal
ini membuat publik kesulitan menilai mana program khas daerah dan mana program
nasional. Jika ini terus terjadi dan tidak ada penegasan identitas lokal, bukan
tidak mungkin daerah dinilai minim inovasi, meskipun sebenarnya ada,” katanya.
Memasuki tahun kedua,
Soma menilai penilaian publik tidak lagi bertumpu pada narasi visi dan janji
kampanye, melainkan pada hasil konkret yang dapat diukur dan dirasakan
masyarakat.
“Tahun kedua adalah
fase pembuktian. Apakah kebijakan yang dihadirkan benar-benar berkualitas,
berdampak, dan menjawab kebutuhan publik, itu akan terlihat mulai tahun depan,”
tegasnya.
Ia menyarankan agar
pasangan Mirza–Jihan menetapkan target yang lebih ambisius dan berbasis data.
Selain itu, kebijakan yang dilahirkan perlu memiliki identitas lokal yang kuat
agar tidak kembali tertutup oleh program nasional seperti pada tahun pertama
kepemimpinan mereka.
“Yang paling penting,
kebijakan ke depan harus lebih tegas, berbasis kebutuhan riil masyarakat, dan
memiliki ciri khas daerah. Dengan begitu, publik bisa melihat arah pembangunan
Lampung secara lebih jelas,” pungkasnya. (*)
Berita Lainnya
-
AKBP Yonirizal Khova Resmi Jabat Wakapolresta Bandar Lampung
Kamis, 19 Februari 2026 -
Universitas Teknokrat Indonesia Gelar Tarawih Perdana 1447 H, Mahasiswa Informatika Sampaikan Kultum 'Momentum Kembali'
Kamis, 19 Februari 2026 -
Kurir Sabu 17,29 Kg Dibekuk di Exit Tol Bakauheni, Diupah Rp170 Juta Sekali Kirim
Kamis, 19 Februari 2026 -
PLN Dorong Penguatan UMKM melalui Rumah BUMN Bandar Lampung, DPD RI Lakukan Kunjungan
Kamis, 19 Februari 2026









