• Kamis, 26 November 2020

Peran Tokoh Adat Merawat Kearifan Lokal, Oleh Sri

Kamis, 12 November 2020 - 09.49 WIB
116

Wartawan Kupas Tuntas, Sri. Foto: Doc/Kupastuntas.co

Sri

Bandar Lampung, Kupastuntas.co - Lampung dikenal dengan daerah Sai Bumi Ruwa Jurai yang berarti satu bumi beragam suku. Hal itu juga dapat dijumpai pada Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur (TBT), Kota Bandar Lampung.Yang saat ini Kelurahan tersebut di huni sebanyak 10842 orang, dan terdiri dari 22 RT, serta lingkungan 1 dan lingkungan 2.

Satu hari sedang berlangsungnya perayaan pesta perkawinan, di salah satu rumah warga di daerah Kelurahan Kota Karang. Beberapa pemuda yang menjadi panitia tampak serius mempersiapkan berbagai hal yang dibutuhkan untuk membantu menyukseskan acara tersebut. 

Para pemuda itu merupakan suku Bugis, Banten, dan Lampung. Seakan tak ada sekat antara mereka, semuanya bekerjan sama dan saling membantu sambil sesekali lempar senyuman. 

Situasi keakraban ini tidak mudah tercipta. Ada sejarah panjang dan upaya keras menciptakan kerukunan antarsuku di daerah ini oleh beberapa tokoh.

Lantaran sekitar tahun 1998 sempat terjadi bentrok antar suku Banten dan suku Bugis. Kemudian pada tahun 2002 kembali bentrok antara suku Banten dan suku Lampung di daerah itu.

Gejolak bentrok tersebut lebih banyak dipicu oleh kalangan pemuda. Seperti dua pemuda menyukai gadis yang sama, sehingga kedua pemuda itu saling serang dengan menggunakan senjata tajam. 

Salah satu dari dua pemuda yang berasal dari suku yang berbeda itu tertusuk senjata tajam. Namun, setelah terjadi penusukan tersebut, pelaku tidak bertanggungjawab malah kabur ke luar daerah.

Oleh karena itu, suku yang lain mengira bahwa itu adalah orang Bugis yang melakukannya. Padahal, pelakunya kabur, sementara membalasnya pada orang lain, yang belum tentu dia salah.

"Termasuk saya. Kalau dulu keluar rumah tanpa membawa senjata, itu tidak nyaman," ujar Ketua RT 1 lingkungan II, Alfan Faisal (39), yang pernah mengalami bentrok, pada saat usianya menginjak 19 tahun.

Kemudian tak hanya di kalangan pemuda, ketika anak-anak kecil ribut karena memperebutkan sebuah mainan, namun yang ikut ribut pun kedua orang tuanya.

Pada waktu itu juga, sempat beberapa kelompok masyarakat ingin membakar sebuah perkampungan yang dihuni oleh orang-orang Banten. Namun, di situ juga ada orang dari suku lainnya, sehingga pembakaran itu tidak terjadi. Kondisi seperti ini terjadi cukup lama. 

"Hingga mulai tenang itu sekitar 2005 sampai dengan sekarang, karena tokoh masyarakatnya sudah kompak semua, sampai ke tingkat RT," kata Alfan Faisal.

Salah satu tokoh adat Bugis yang ikut melerai peristiwa itu yakni Abdul Malik, yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Kota Bandar Lampung. Ia mengaku cara menyelesaikan pertikaian itu berkerja sama dengan aparat kepolisian, lalu merangkul dikalangan anak-anak mudanya.

Kemudian kerja sama antar tokoh masyarakat dan semua tokoh adat baik itu Lampung, Bugis, dan Banten untuk saling membaur. 

"Saya juga ikut menyelesaikan kalau ada gejolak yang tidak diinginkan cepat kita selesaikan, dengan bekerja sama semua pihak itu. Sehingga tidak terjadi lagi percikan emosi seperti dahulu," ungkapnya.

Kemudian untuk lebih mengakrabkan warga masyarakat, para tokoh masyarakat dan tokoh adatnya membuat berbagai kegiatan seperti perlombaan 17-an, dengan melibatkan semua pihak termasuk anak-anak muda yang jadi panitianya. 

Sehingga saling kenal dan saling punya tenggang rasa dan menyatu. "Tidak lagi menganggap saya ini Bugis atau saya ini Lampung dan sebagainya," timpalnya.

Di daerah itu kini masyarakatnya sudah saling bergotong royong, setidaknya dalam seminggu dua kali setiap hari Selasa dan Jumat untuk membersihkan jalan di Kelurahan Kota Karang tersebut.

Lalu adanya rutin setiap bulan ibu-ibu pengajian atau bahkan setiap ada yang meninggal dunia, warga sudah berbaur dengan berbagai latarbelakang suku yang menjenguk rumah duka. Termasuk membantu ketika ada salah satu warga yang melaksanakan pesta perkawinan.

"Akan tetapi yang perlu diperhatikan saat ini adalah narkoba dan pergaulan bebas yang menjadi musuh bersama. Kita juga menyosialisasikan pada masyarakat agar memantau dan mengawasi pergaulan anak-anaknya ini jangan sampai salah arah," ucap Abdul Malik.

Oleh karenanya, memang benar dalam menjaga persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat, bukan hanya diperlukan sikap saling menghargai dan menghormati, namun juga adanya contoh dari seorang tokoh, yang bisa dijadikan teladan nyata dalam kehidupan. Sehingga tidak terjadi gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan pertikaian.

Tokoh adat Lampung, Perdana Menteri Kepaksian Pernong di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, yang berada di Batubrak, Provinsi Lampung, Ike Edwin mengatakan dalam menjaga kearifan lokal pandanglah bahwa semua manusia itu sama, tidak ada bedanya. 

"Kemudian tidak ada di dunia ini yang orang diajarkan untuk berbuat jahat. Karena pada dasarnya semua hukum adat itu sangat berkearifan budaya, tapi tetap landasannya adalah agama yang kuat," kata Dang Ike sapaan akrabnya.

Lanjut Dang Ike, agama mengajarkan jangan nakal jangan berbuat jahat, saling tolong. Namun, dalam perkembangannya bergantung pada pemahaman masing-masing orang, ada yang memahami dengan cepat dan juga ada yang lambat. 

"Jika pemahaman agamanya bagus maka dia juga membentuk perilaku yang bagus pula. Tapi kalau dia hanya memahaminya dengan setengah-setengah, perilaku dalam kehidupan sehari-hari juga seperti itu," ujar mantan Kapolda Lampung itu.

Maling tidak boleh, memukuli orang tidak boleh, kemudian begal juga tidak diperbolehkan. Tetapi, yang memahami agama dan budaya dengan setengah-setengah ini, maka kata Dang Ike, perilaku di lapangan dan di masyarakatnya juga akan seperti itu.

Padahal menurutnya, agama ini datangnya lebih dulu daripada budaya. Dan budaya ini sebagai pelaksana dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan apa yang didapatkan di dalam Al-Quran. Jika agamanya Islam.

"Namun demikian budaya ini juga beragam di setiap daerah. Akan tetapi percayalah tidak ada satu pun budaya yang mengajarkan kita untuk merusak, menjadikan kita orang yang tidak baik, apa lagi membawa untuk saling bermusuhan. Karena tidak ada satu pun budaya yang tidak toleran," jelas Dang Ike.

Nah kata Dang Ike, dari budaya-budaya ini tadi mengapa di dalam praktiknya terjadi berbagai kerusuhan?!. Yang pertama menurutnya, mungkin ada kepentingannya, kedua terjepit masalah ekonomi, kemudian mungkin adanya unsur-unsur kebencian ataupun dendam.

"Kebenciannya ini bisa juga sama ideologi, budaya atau juga benci terhadap perorangan. Maka di situlah mereka memahami agama dan budaya itu salah. Karena perkembangan zamannya tadi," ucapnya.

Menurutnya, zaman di sini dalam artian masa ekonomi, politik dan bisa juga dilihat dari perkembangan sosial dan kemodernan. Perkembangan ini nilai-nilainya ikut merosot dikarenakan orang berbeda memahaminya maka berbeda juga di dalam aplikasinya.

Sebenarnya orang ini baik lanjut Dang Ike, namun ada kebutuhan tertentu yang belum bisa ia penuhi. Seperti perutnya lapar dan pekerjaan belum bisa dia dapatkan dan tidak kuat juga mentalnya. Maka segala cara bisa saja dia tempuh akhirnya salah. Padahal Agama dan budaya tadi tidak mengajarkan seperti itu.

"Maka jika kita tidak sependapat maka dimusyawarahkan, karena musyawarah itu adalah hukum yang tertinggi. Dengan musyawarah kita dapat adil karena adil itu sendiri adalah hukum yang tertinggi," tegasnya.

Meski mendefinisikan adil itu sulit kata Dang Ike. Seperti halnya putusan hakim dengan menjatuhkan hukuman 5 tahun pada penjahat. Itukan untuk kepentingan hukum, tetapi keadilannya sendiri belum ditemukan.

"Dengan demikian saya sebagai orang kearifan lokal dan kita semuanya sebagai orang Lampung. Saya juga yang mencetuskan salam Lampung dengan tangan berbentuk L, artinya apapun sukunya jika sudah tinggal di Lampung berarti dia adalah orang Lampung," tuturnya.

"Karena memang Indonesia sendiri diawali dengan perbedaan, dan justru dengan perbedaan itu jadilah Indonesia. Karena perbedaan itu juga Indonesia bersatu, dan perbedaan itu pula munculah pancasila, kemudian karena perbedaan itu juga kita kuat," timpalnya.

Dang Ike juga menuturkan, budaya itu bisa dikemas, karena kebudayaan sendiri adalah peradaban dan peradaban itu bisa berubah dari zaman dulu hingga saat ini.

Kemudian pada masyarakat Lampung sendiri mempunyai falsafah hidup yakni piil pesenggiri dan itu dapat diartikan malu melakukan pekerjaan hina menurut agama.

Dan di dalam Piil Pesenggiri ada beberapa unsur di dalamnya, seperti sakai sambayan yang dapat diartikan gotong royong, tolong-menolong, bahu membahu dan termasuk sumbangan pikiran dan lain sebagainya.

Kemudian nengah nyapur itu artinya suka berkumpul bersama dengan siapa saja di tengah masyarakat. Nemui nyimah itu kalau ada tamu yang datang diterima dengan baik dan terakhir juluk adek atau pemberian gelar kehormatan.

"Artinya adat dan budaya itu mengajarkan kita untuk lebih beradab lagi. Makanya kata-kata peradaban itu sepanjang masa akan muncul terus," tegasnya.

Masih dari sudut pandang seorang mantan kapolda Lampung itu juga bahwa dalam merawat kearifan lokal, pertama menyambut baik perkembangan teknologi, dengan adanya teknologi semua urusan dipermudah.

Kemudian segala sesuatu yang baik seperti perkembangan budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan semuanya harus disambut pula dengan baik.

Namun, perlu diingat, lingkungan dan pergaulan di luar rumah semua berasaskan pada agama yang baik. Dan di luar agama di dalam penerapannya ada etika yang baik, sopan santun dan budaya yang baik.

"Mudah-mudahan perkembangan teknologi apa saja dengan dilandasi agama dan budaya yang kuat, maka kita akan jadi orang bermartabat. Jadilah orang yang santun saling menghormati, dan kearifan lokal yang bagus maka kita juga jadi arif dan bijaksana. Oleh karenanya budaya bisa membawa kita lebih baik apa lagi berlandaskan agama yang baik," tandasnya.

Peneliti kearifan lokal di Lampung, Prof. Fauzi Nurdin mengatakan manusia disebut beradab dan berbudaya adalah orangnya  memiliki iman dan berakhlak. Berahklak dalam apa pun dan pada siapa pun. 

Di dalam kehidupan terangnya, ada yang namanya kearifan lokal yang merupakan hasil dari perilaku manusia itu sendiri, dan hal itu merupakan perpaduan antara ajaran agama kemudian diaktualisasi dalam kehidupan manusia. 

"Nah perilaku manusia yang dikerjakan secara berulang-ulang dalam sistem sosialnya itu yang disebut budaya," ujar Dosen Pasca Sarjana UIN Raden Intan Lampung itu.

Dan tidak pungkiri terang Prof. Fauzi, budaya di tengah masyarakat ini beragam, termasuk di dalamnya ada berbagai gesekan dan hal itu bisa dipahami sebagai persaingan dan konflik.

Jadi manusia sebagai makhluk sosial itu ada empat yakni adanya persaingan, kerja sama, konflik, dan ada akomodasi. Bahkan di seluruh dunia empat ciri itu pasti ada.

"Nah ketika pada tataran empirik positivisme atau perilaku nyata. Di dalam konteks ini ada ragam di dalam masyarakat tadi. Agar tidak terjadi persaingan dan gesekan tadi perlu ditumbuhkan adanya kesadaran individu, kelompok, komunitas, masyarakat bangsa dan negara. Kesadaran apa? Yakni kesadaran untuk jangan pernah ragu berbuat baik kepada saudaranya sendiri," paparnya.

Dan menurutnya, kesadaran ini yang harus dimunculkan. Kesadaran ini juga wajib hukumnya berlandaskan pada iman. Perlu diingat iman ini juga memahaminya bukan hanya sekadar ingat, tetapi juga diamalkan dalam bentuk perilaku keseharian dan dilakukan secara konsisten.

"Maka jika terjadi nilai-nilai seperti merampok dan gesekan tadi maka perlu adanya sosialisasi nilai-nilai kejujuran dan akhlak, kemudian pembudayaan nilai dari perilaku buruk menjadi perilaku baik," tuturnya.

Untuk itu kata Dia, perlu adanya edukasi pada masyarakat, karena tidak bisa tercipta dengan sendirinya. Dan yang berperan mengedukasi ini adalah sosok seorang pemimpin.

Pemimpin dalam bidang apa pun, yang mampu berfikir, bersikap, bertindak dan berperilaku yang baik, benar dan konsisten.

Seperti halnya pemimpin adat itu wajib berakhlak karena merekalah yang menjadi panutan dan contoh bagi pengikut-pengikutnya, jangan sampai pemimpin tadi justru memberikan contoh perilaku yang tidak beradat.

Karena di tengah masyarakat banyak faktor yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku mereka, seperti faktor ekonomi dan lain sebagainya.

"Maka di situlah peran tokoh adat, pemimpin masyarakat, tokoh agama dan semuanya dibutuhkan untuk sosialisasi dan pembudayaan nilai," tutupnya. (*)