• Sabtu, 05 Desember 2020

Kreativitas Bayu Mengolah Bambu Jadi Miniatur Unik

Selasa, 10 November 2020 - 17.42 WIB
174

Bayu, saat menunjukan puluhan cangkir berbahan bambu yang siap dipasarkan. Foto: Agus/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co Lampung Timur - Dengan cekatan tangan Bayu, warga Desa Labuhanratu VI, Kecamatan Labuhanratu, Lampung Timur, mengolah sebuah bambu untuk dijadikan sebuah miniatur unik, seperti pesawat, becak, traktor, gantungan kunci, asbak dan perlengkapan dapur terutama cangkir.

Siang itu Selasa (10/11/2020), dari jalan poros desa tampak sesosok pemuda dengan mengenakan baju warna hitam sedang menghaluskan (amplas) potongan bambu, dengan mesin sederhana yang di buat nya sendiri, dengan menggunakan tenaga listrik untuk memutar roda amplas membuat potongan potongan bambu menjadi halus.

Tampak di depan sebuah ruangan 2,5 x 2,5 meter tertulis 'rumah bambu'. Beberapa potongan bambu bersandar pada tembok ruang kecil tersebut, yang memang ruangan itu untuk Bayu memproduksi miniatur dari bahan baku bambu.

"Ya ini lagi menghaluskan bambu mas. Setelah itu saya bentuk sesuai yang diinginkan," terang Bayu, sembari mempersilakan Kupastuntas.co untuk masuk ke rumahnya.

Dalam rumah Bayu sudah banyak terdapat miniatur yang siap dipasarkan, antara lain puluhan cangkir, becak, traktor, pesawat dan beberapa gantungan kunci.

"Ini semua sudah siap dipasarkan," ujar Bayu, dengan menunjukan beberapa miniatur tersebut.

Bayu yang tinggal bersama istri nya berharap, miniatur dari bambu bisa dijadikan sumber penghasilan.

"Ya karena yang saya miliki ketrampilan semacam ini, maka saya manfaatkan untuk berwira usaha," jelas Bayu.

Bayu menjual miniatur tersebut dari harga Rp20 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung tingkat kesulitan membuatnya. Sementara bahan baku yang digunakan 90 persen dari bambu dan Bayu membeli satu batang bambu seharga Rp10 ribu.

"Bambu yang saya gunakan ada dua jenis, jenis bambu hitam dan bambu petung," papar Bayu.

Namun soal pasar masih menjadi kendala bagi Bayu, terutama di tengah Pandemi Covid 19. Sebab Bayu berencana akan memasarkan produknya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan target konsumen pengunjung wisata. Namun karena kondisi alam yang tidak bersahabat, sejak Maret hingga sekarang TNWK masih di tutup untuk umum.

"Kenapa saya ingin berjualan di TNWK, selain objek wisata nasional desa kami merupakan jalan poros masuk TNWK," terang Pria tersebut.

Terkait dengan kondisi saat ini, Bayu hanya memasarkan karyanya melalui media sosial, dan ditengah kondisi seperti ini (Covid-19) dalam waktu satu bulan Pria tersebut bisa menjual cangkir bambu sebanyak 40 unit.

"Ya masih banyak peminat yaitu cangkir bambu nya. Kalau menurut mereka sih kayaknya minum kopi dengan cangkir bambu lebih segar bila dibanding cangkir jenis plastik," tutup Bayu.

Sementara, seorang penggiat lingkungan, Kausar, yang tergabung di WCS mengatakan, karya Bayu dengan membuat cangkir bambu lalu dipasarkan secara tidak langsung, membantu program ramah lingkungan. Karena bahan bambu lebih ramah bila dibanding dengan bahan plastik.

"ami juga mencoba meminum kopi dengan cangkir bambu dan rasanya berbeda dengan cangkir plastik," terang Kausar. (*)


Video KUPAS TV : Festival Kopi Lampung Tahun 2020 Resmi Dibuka, Lihat Keseruannya.