• Rabu, 02 Desember 2020

Kerukunan Umat Beragama Benteng Radikalisme, Oleh Siti Khoiriyah

Rabu, 04 November 2020 - 11.13 WIB
159

Siti Khoiriyah.

Kupastuntas.co - Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki jumlah penduduk terbanyak nomor 4 di dunia dengan jumlah 268.074.600 juta jiwa.

Selain itu Indonesia juga aktif menjadi anggota Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) bersama 193 negara di dunia. Indonesia sangatlah menjunjung tinggi pluralisme sebab merupakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan  berbagai macam suku, agama dan budaya. 

Pulau terbesar urutan ke-6 di dunia ialah pulau Sumatera yang meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung dan Lampung dengan luas  473.481 km². Penduduk pulau ini sekitar 57.940.351 juta jiwa.

Dari 10 Provinsi tersebut, Lampung yang berdiri sejak 56 tahun lalu menjadi Provinsi yang paling banyak memiliki keberagaman. Lampung memiliki 13 Kabupaten, 2 Kota, 228 Kecamatan, 205 Kelurahan dan 2.449 desa. 

Provinsi Lampung dengan jumlah penduduk 9,7 juta jiwa sangat heterogen. Hampir semua suku dan agama ada di sini. Sebagian besar masyarakat Lampung menganut ajaran Islam yakni 81,57 persen dari jumlah penduduk yang ada. Sedangkan sisanya menganut ajaran Kristen, Katolik, Hindu dan Budha.

Dengan berbagai keberagaman tersebut membuat pemerintah harus bekerja lebih ekstra dan mengambil langkah antisipasi untuk terus menjaga kerukunan umat beragama, toleransi dan saling menghargai sehingga tidak terjadi konflik SARA  yang dapat menjadi pintu masuk munculnya aksi-aksi radikalisme.

Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga kerukunan. Disinilah peran seluruh elemen masyarakat serta organisasi keagamaan sangat dibutuhkan untuk menangkal paham tersebut agar tidak masuk dan memecah belah dan menghancurkan ideologi bangsa dan negara.

Salah satu organisasi keagamaan yang aktif menjaga kerukunan umat beragama dan menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi umat beragama ini dilakukan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Lampung. 

Ketua PHDI Provinsi Lampung, Ketut Pasek mengatakan, Lampung merupakan mini-nya Indonesia. Dimana semua agama, suku, dan budaya ada di Provinsi Lampung. Ia mencontohkan, kerukunan umat beragama yang berada di kelurahan Labuhan Ratu Kota Bandar Lampung.

Di Kecamatan tersebut, bangunan pura, masjid, dan rumah umat Hindu dan Islam saling berdampingan seakan menggambarkan betapa eratnya kebersamaan, kerukunan dan toleransi yang terjadi di Kecamatan tersebut.

"Semua masyarakat hidup saling berdampingan. Contoh kalau umat muslim melaksanakan salat Idul Fitri umat Hindu keliling desa menjaga keamanan. Begitu sebaliknya, ketika umat Hindu sedang nyepi maka umat Islam yang berjaga," katanya.

Pasek mengatakan, umat Hindu dan Islam di Kecamatan Labuhan Ratu hidup rukun dan berdampingan sejak puluhan tahun silam ini hidup saling berdampingan, saling menghargai serta saling menyayangi.

Kebaikan tersebut pun sudah ia tularkan keseluruhan umat Hindu yang ada di Lampung. Ia meyakini, dengan kekuatan ikatan kekeluargaan dan saling menghargai tersebut akan membuat Lampung kebal dari paham radikalisme.

"Keberagaman yang kemudian kita jadikan ini sebagai ikatan untuk mejalanin kerukunan maka secara tidak langsung ini adalah payung atau benteng kita untuk berlindung dari segala paham-paham radikal yang mecoba masuk dan merusak kebhinekaan," katanya. 

Menurutnya, masyarakat Indonesia semuanya harus menjadi bagian dari benteng untuk menjaga negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Karena menjaga persatuan bangsa, dan mencintai Tanah Air itu adalah bagian dari kewajiban yang ada di dalam semua agama apapun dan suku apapun.

Mencintai Keberagaman

Erwin Syahrial gelar Dalom Kesuma Ratu Gusti Panembahan, Raja Keratuan Ratu Darah Putih di Lampung Selatan mengatakan, orang Lampung sangat menerima keberagaman. Dengan keberagaman, baik budaya maupun agama. Suatu daerah akan cepat maju dan memiliki warna-warni budaya maupun agama yang bisa menjadi kekayaan bagi daerah tersebut.

Orang Lampung bisa hidup berdampingan dengan baik bersama orang-orang yang memiliki budaya dan agama yang berbeda. 

“Orang Lampung sadar betul bahwa keberagaman adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri dalam kehidupan bermasyarakat. Justru keberagaman menjadi kekayaan dan keindahan bagi suatu daerah,” ujarnya.

Orang Lampung sejak dulu memiliki nilai sosial dalam bekerjasama yakni Sakai Sambayan (gotong royong), tolong menolong, bahu membahu. Sehingga orang Lampung dan pendatang menjadi mudah dalam membangun kebersamaan. 

Keberagaman sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keberagaman membuat kehidupan lebih indah dan menguntungkan manusia. Saling mengisi kekurangan yang ada. Misalnya dalam bercocok tanam. 

Sebelumnya orang Lampung tidak tahu tanaman palawija, orang Lampung hanya bertani tanaman tahunan, seperti lada, cengkeh, kopi, damar.

Setelah orang-orang Jawa datang ke Lampung, maka orang Lampung jadi tahu bercocok tanaman palawija. Itu salah satu contoh indahnya keberagaman yang membawa berkah. 

Menurut Erwin Syahrial, merawat keberagaman adalah obat radikalisme. Saling menghargai budaya dan agama masing-masing pihak, jangan ada saling klaim budayanya yang paling bagus dan menjelekkan budaya lainnya, agamanya paling benar dan menjelekkan agama lain. Intinya saling menghargai.

Cerita Erwin, dulu tahun 90-an  di Kalianda ada yang namanya  IKABASA (Ikatan Keluarga Besar Antar Suku dan Agama). Ketika ada masalah antara suku dan agama, maka pengurus IKABASA yang mengupayakan penyelesaiannya. 

Pernah ada orang Bali datang mau menangkap orang Lampung di Desa Sukaratu, karena kasus begal. Perwakilan orang Bali waktu itu cukup datang tiga orang menemui pengurus IKABASA. Mereka bersama-sama dengan Kades menemui keluarga pelaku, dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Pernah juga terjadi keributan suku Palembang antara Palas Pasamah dengan Sukaraja, diselesaikan juga dengan baik secara kekeluargaan, oleh Bupati bersama IKABASA. Sayang, keberadaan IKABASA yang menjadi jembatan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat itu, sekitar 15 tahun lalu tenggelam. (*)