• Rabu, 02 Desember 2020

Harga Pisang di Tanggamus Anjlok, Petani: Permintaan Jabodetabek Menurun karena PSBB

Minggu, 25 Oktober 2020 - 15.56 WIB
114

Seorang petani pisang di Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus sedang mengangkut tandan buah pisang untuk dibawa ke pengepul. Foto: Sayuti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus - Petani pisang di Kabupaten Tanggamus mengeluhkan anjloknya harga tandan buah pisang di tingkat petani yang hanya dihargai Rp1.000 per kilogram.

Heri (42), petani pisang di Pekon Sumur Tujuh, Kecamatan Wonosobo mengatakan, anjloknya harga tandan buah pisang ini terjadi diduga sejak diterapkannya kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), yang merupakan wilayah tujuan pisang asal Tanggamus.

Pandemi yang belum diketahui kapan akan berakhir, berdampak pada menurunnya permintaan pisang dari Jabodetabek. Hal itu membuat harga tandan buah pisang juga tidak stabil.

"Sejak pandemi virus Corona, harga tandan buah pisang tidak pernah stabil, bahkan cenderung semakin turun," kata Heri, Minggu (25/10/2020).

Menurutnya, sebelum pandemi virus Corona harga pisang super dibeli para pengepul hingga Rp3.500 - Rp4.000 per kilogram, pisang kualitas sedang Rp3.000 per kilogram dan kualitas ramesan Rp2.500 per kilogram.

Tapi Jabodetabek PSBB, hanya pisang super atau ambonan hanya dihargai Rp2.000 per kilonya. Bahkan sebulan lalu cuma Rp1.000, dan ramesan saat ini hanya Rp1.000 per kilonya.

Dengan kondisi saat ini para petani pisang mengaku hanya bisa pasrah menelan pil pahit anjloknya harga tandan buah pisang. 

Mulyadi, petani pisang di Kecamatan Kotaagung Barat misalnya mengaku kehidupan keluarganya semakin terpuruk akibat anjloknya harga tandan buah pisang.

"Sebelum corona, hasil dari pisang ini sangat membantu ekonomi keluarga saya. Tapi kini, pisang anjlok, bahkan pengepul banyak yang tolak, karena di Pulau Jawa lagi lockdown," ujarnya.

Bagi para petani di Tanggamus, awalnya tanaman pisang hanya tanaman tumpangsari disela tanaman kopi atau kakao. Tetapi sejak harga kopi tidak juga berpihak kepada petani dan kakao diserang hama, membuat sebagian petani beralih menanam pisang yang dianggap lebih menjanjikan.

"Banyak tanaman kopi dan kakao dibabat, beralih tanam pisang. Akan tetapi saat tanaman pisang mulai menghasilkan, kini malah harganya tidak menentu," ujar Kasman, petani pisang di Kecamatan Limau.

Ia berharap, harga tandan buah pisang kembali naik sehingga bisa membantu memulihkan ekonomi mereka ditengah terpaan pandemi Covid-19.

"Sebab jika harganya tetap murah, alamat hidup kami semakin terpuruk," terangnya. (*)


Video KUPAS TV : Harga Singkong Anjlok, Ratusan Petani di Lampung Utara Unjuk Rasa