• Selasa, 27 Oktober 2020

Penghasilan Menurun, Terapis Pijat Refleksi di Pringsewu Ternak Burung Kenari Demi Bertahan di Masa Pandemi

Senin, 12 Oktober 2020 - 16.03 WIB
43

Yohanes Heru, Terapis Pijat Refleksi beralih Ternak Burung Kenari Demi Bertahan di Masa Pandemi. Foto: Rifaldi/Kupastuntas.co

Pringsewu, kupastuntas.co - Warga Pringombo RT 03 RW 04, Pringsewu Timur lebih hobi beternak Burung kenari di tengah Pandemi Covid-19, karena penghasilan sebagai terapis menurun 50 persen.

Yohanes Heru (42), yang bekerja sebagai terapis pijat refleksi di Kabupaten Pringsewu penghasilan atau pendapatannya turun hingga 50 persen di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Heru ini mendapat pemasukan lain dari beternak kenari. Untuk pasaran burung kenari saat ini dirinya mengatakan cukup stabil dibandingkan dengan burung love bird yang sedang anjlok.

"Untuk harga burung kenari di masa pandemi meningkat. Harga burung kenari (bahan) mencapai Rp 180 ribu sampai dengan Rp 250 ribu per ekor, harga itu pun untuk jenis burung kenari lokal," Kata Heru.

Lanjutnya, Ia mulai beternak burung kenari dari Juli 2020, dengan lima indukan dan sudah menghasilkan 23 ekor anakan kenari.  "Dari Hasil beternak kenari selama tiga bulan, saya mendapatkan penghasilan sekisar Rp 4.140.000," jelas Heru ketika ditemui Kupastuntas.co, Senin(12/10/2020).

"Semua ini harus ada ketelatenan dan ketelitian serta sabar dalam melakukan perawatan burung kenari," sambungnya.

Ia menjelaskan untuk merawat burung kenari butuh waktu kurang lebih 50 hari supaya menghasilkan anakan burung yang sudah mandiri dan untuk mempersiapkan kawin dan bertelur butuh waktu 5 sampai 10 hari, sedangkan untuk betina selama 14 hari.

Lanjutnya, dalam merawat indukan baby kenari ini harus ekstra serta memberi mereka makan teratur antara lima - enam jam sekali.

"Saya bukan sebagai penerima bantuan pemerintah di tengah pandemi Covid-19.Kendati begitu, dia pernah mendaftar sebagai peserta program prakerja, namun namanya tidak lolos," pungkasnya.(*)