• Minggu, 12 Juli 2020

Terdampak Covid-19, Sektor Pariwisata di Lampung Seperti Mati Suri

Rabu, 01 Juli 2020 - 12.47 WIB
11

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, Dr. Edarwan, S.E, M.Si, bersama Wakil Ketua PHRI Lampung, Mukhlis L.Wertha dan Ketua DPD ASITA Provinsi Lampung, Adi Susanto saat menjadi narasumber dalam program Kupas Podcast, yang berlangsung di Studio Podcast Kupas Tuntas, Rabu (1/7/2020). Foto: Wanda/Kupastuntas.co

Bandar Lampung - Sektor Pariwisata di Lampung paling awal dan paling terkena dampak Covid-19, namun Dinas Pariwisata berharap sektor tersebut jangan terakhir untuk bangkit saat diberlakukan new normal oleh Pemerintah.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, Dr. Edarwan, S.E, M.Si. mengatakan, semenjak ada peraturan pengetatan jumlah wisatawan, membuat destinasi wisata di Lampung seperti Mati Suri, hal ini sangat berpengaruh kepada sektor yang lain, seperti pelaku ekonomi kreatif, UMKM bahkan sampai hotel dan restoran.

“Destinasi wisata memang paling kena dampaknya, semua yang berada dilingkaran itu pun terkena dampaknya juga. Oleh karena itu kami (Sektor Wisata) harus lari sekencang mungkin agar tidak terpuruk pada saat new normal saat ini,” ujar Edarwan saat menjadi narasumber dalam program Kupas Podcast, yang berlangsung di Studio Podcast Kupas Tuntas, Rabu (1/7/2020), bersama Wakil Ketua PHRI Lampung, Mukhlis L.Wertha dan Ketua DPD Association of The Indonesia Tour & Travel Acencies (ASITA) Provinsi Lampung, Adi Susanto.

Ketua DPD ASITA Lampung, Adi Susanto mengatakan, Jauh sebelum dampak Covid-19, sektor pariwisata di Lampung memang seakan mati suri, dimulai dari awal tahun 2018 diterpa oleh isu tsunami, namun sempat bangkit, tak lama berselang ada juga peraturan tiket pesawat mahal, bahkan bagasi harus berbayar.

“Sehingga dampak di sektor pariwisatanya kian terasa anjloknya, dan yang saat ini terjadi pandemi covid-19 yang berakibat pada penurunan drastis jumlah wisatawan,”ungkapnya.

Ia menjelaskan, selama pandemi corona ini sebanyak 13 hotel tutup dan 11 Destinasi wisata di Lampung tidak beroperasi.

“Hal ini menyebabkan dampak ka kami yakni tour dan travel, agen perjalanan wisata terasa sekali dampaknya,”tandasnya. (*)