• Senin, 10 Agustus 2020

BLT di Metro Jadi Sorotan, Orang Meninggal Masih tercantum Sebagai Penerima Bantuan

Kamis, 14 Mei 2020 - 19.07 WIB
133

Ketua RW 09, Patimi dan sejumlah RT bersilaturahmi ke rumah wartawan Kupastuntas.co untuk mengklarifikasi terkait bantuan BLT dan juga menginformasikan sejumlah bantuan yang disalurkan pemerintah. Foto: Han/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Program bantuan langsung tunai (BLT) dari Kementerian Sosial yang telah disalurkan ke masyarakat, khususnya di Kota Metro baru-baru ini masih menjadi sorotan.

Fakta di lapangan, bantuan untuk warga terdampak Covid-19 ditemukan ketidak-sesuaian data penerima. Bahkan, orang yang sudah meninggal pun masih tercantum sebagai penerima bantuan.

Ironisnya, oknum dari Dinas Sosial setempat turut mengajukan tanpa koordinasi dari Pamong atau Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Sehingga mereka kuatir akan terjadi tumpang tindih data bantuan.

Ketua RW 09, Patimi mengungkapkan, pihaknya telah mengetahui tidak sedikit warganya yang merasa kecewa, karena tidak mendapat bantuan dari program BLT.

"Kami tidak pilah-pilih. Semua warga telah diusulkan. Namun, tetap saja warga tidak terima karena tidak terakomodir," ujar Patimi, Kamis (14/5/2020).

Dia pun merasa kecewa karena usulan yang telah diajukan ke Dinas terkait tidak sesuai dengan data yang ada. Bahkan, selain orang yang sudah meninggal, warga yang telah pindah pun masih tercantum sebagai penerima bantuan.

"Bagaimana tidak menjadi keresahan warga lain. Orang sudah meninggal dan orang tidak tinggal di Metro masih tercantum penerima bantuan. Sehingga kami juga menjadi kemarahan warga. Ada pula satu KK mendapat bantuan dobel dan setelah diselidiki ternyata oknum Dinas yang mengajukan," terangnya.

Di RW 09, kata Patimi, mayoritas warga berpenghasilan rendah dan layak untuk menerima bantuan. "Saya berterima kasih ada yang membantu untuk mengklarifikasi terkait bantuan BLT. Sehingga kami tidak menjadi tudingan negatif warga," ucap Patimi diamini sejumlah Pamong RT, 35A, RT 35B, RT 36 dan RT 37.

Ia menambahkan, di RW 09 jumlah warganya sebanyak 430 KK. "Itu sudah diusulkan. Namun yang terakomodir sebanyak 50 KK. Kami berharap agar warga yang belum menerima bantuan agar bersabar karena kami telah mengusulkan ke Dinas Sosial agar dapat terakomodir melalui bantuan bansos dari APBD sebesar Rp400 ribu, "tandasnya.

Hal serupa diungkapkan oleh RW 08, Rosidi. Pihaknya pun mengakui menjadi sasaran kemarahan warganya karena tidak terakomodir sebagai penerima bantuan.

"Saya juga mendapat protes dari warga, karena menurut mereka kami pilah-pilih dalam mengajukan usulan batuan BLT tersebut. Tapi kami sebagai pamong terima saja. Namanya Pamong mau bagaimana lagi " keluh dia.

Untuk di RW 08, ucap dia, jumlah warganya sekitar 500 KK . Namun yang mendapat bantuan dalam program BLT sebanyak 46 KK.

"Telah saya usulkan semua tapi yang terakomodir sebanyak 46 KK. Bagaimana warga tidak menjadi kemarahan warga. Namun, alhamdulilah ada program bansos dari APBD. Yah mudah mudahan warganya yang belum menerima bantuan dapat terakomodir," tandasnya.

Diketahui, sudah ratusan warga Kelurahan Hadimulyo Barat, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro protes terhadap Pamong atau Ketua Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) setempat.

Mereka (warga) kecewa karena tidak tercantum penerima bantuan sosial dalam program bantuan sosial tunai (BST) sebesar Rp600 ribu selama tiga bulan ke depan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia (RI) dan Bantuan Keluarga Harapan (PKH) serta bantuan pangan non tunai (BPNT). (*)