• Rabu, 03 Juni 2020

Dimana Empatimu, Oleh Donald Harris Sihotang S.E, M.M.

Selasa, 12 Mei 2020 - 07.07 WIB - 81

Donald Harris Sihotang S.E, M.M.

Bung Kupas - Musibah coronavirus disaese (Covid-19) yang menjadi pandemi menimbulkan banyak kerusakan dalam kehidupan di tengah masyarakat. Ekonomi terpukul, khususnya masyarakat menengah ke bawah hari ini mulai terseok-seok, akibat pembatasan sejumlah aktivitas dan terjadinya pemutusan hubung kerja. Hampir di semua sektor atau bidang terkena imbasnya.

Diawali dengan meliburkan sekolah. Di Lampung peserta didik sudah diliburkan dan belajar secara online dari rumah sejak bulan maret 2020. Berlanjut dengan peniadaan Ujian Nasional. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19). Salah satu pokok penting dalam edaran ini adalah keputusan pembatalan ujian nasional (UN) Tahun 2020.

Tidak lama kemudian, karyawan mulai dirumahkan atau bahkan diberhentikan karena perusahaan tempatnya bekerja tak sanggup lagi melanjutkan operasionalnya. Sedangkan kebutuhan hidup terus berjalan. Enak bagi anda yang statusnya Aparatur Sipil Negara, mau  work from Home gaji masih terus berjalan, hanya seseran dari uang perjalanan dinas yang berkurang.

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung per 9 April 2020, mencatat sebanyak 2.379 tenaga kerja di bumi Lampung ini  terpaksa dirumahkan karena pandemi covid-19. Baik tenaga kerja formal (perusahaan) maupun informal (pelaku UMKM). Mereka dirumahkan dan sementara upah tidak dikeluarkan (ditahan). Upah baru akan diberikan ketika situasi pandemi corona sudah reda dan tenaga kerja kembali kerja seperti biasa.

Industri yang paling banyak menyumbang angka tenaga kerja yang dirumahkan yakni perhotelan, swalayan, dan pelaku UMKM. Secara Nasional, berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja per 2 Mei 2020, sekitar 3 juta tenaga kerja yang dirumahkan dan terkena PHK, imbas dari pandemi covid-19. Artinya, alangkah luas kerusakan yang ditimbulan oleh Covid-19 ini. Alangkah banyak orang yang hidupnya hari ini semakin sulit. Masihkah kita tidak perduli dengan situasi ini. Kita seyogyanya menumbuhkan sikap empati dan meningkatkan kepedulian satu sama lain serta saling bantu dalam mempertahankan hidup.

Bergotong royong saling membantu. Gotong  royong merupakan sikap hidup, cara kerja, dan kebiasaan yang sudah dikenal bangsa Indonesia secara turun-temurun sejak zaman dahulu. Berempatilah dengan sesamamu, sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing.

Hari ini sejumlah wali murid mengeluh, anaknya libur sekolah mulai Maret 2020. Namun masih diharuskan membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), tanpa pengurangan sedikitpun. Ini namanya tidak berempati. Selama belajar online di rumah, walimurid juga mengeluarkan biaya tambahan untuk pembelian kuota internet. Pihak sekolah jangan maunya menang sendiri.

Di masa Covid-19 ini, pemerintah juga memberikan bantuan jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang terdampak, seperti program keluarga harapan, bantuan sosial tunai, dan bantuan lainnya. Jangan anda sunat-sunat, dimana empatimu, dimana rasa kemanusiaanmu. Setiap orang harus peduli dan peka terhadap situasi yang terjadi saat ini. Karena pada dasarnya ketika kita menolong orang lain adalah hakikatnya kita menolong diri sendiri. (*)

  • Editor : Qhasmal Qhadumi