• Senin, 24 Februari 2020

Bantu Biaya Kelahiran Bayi yang Sempat Ditahan RSIA Hidayah Ibu, Hipni Diminta Beri Nama Sang Bayi

Jumat, 14 Februari 2020 - 12.54 WIB - 86

Bakal calon Bupati Lampung Selatan Hipni bersama istri Yuti Ramayanti melihat secara langsung kondisi bayi pada Jumat (14/2/2020). Foto: Dirsah/Kupastuntas.co

Lampung Selatan - Ratnawati (32) warga Desa Canggu, Kecamatan Kalianda, berlingan air mata saat mencerita kondisi anaknya yang akhirnya dapat dibawa pulang ke rumah, pasca ditahan oleh pihak RS Ibu dan Anak (RSIA) Hidayah Ibu, lantaran tidak dapat membayar biaya kelahiran.

Hampir selama 6 hari bayi dari pasangan Ratnawati dan Suryadi (35) itu tidak bisa dibawa pulang karena tidak sanggup membayar biaya administrasi yang membengkak sampai Rp8 juta lebih.

Sambil berlinang air mata, Ratnawati bersyukur karena masih ada pihak-pihak yang peduli terhadap kondisi keluarganya, salah satunya pengusaha muda asal Kecamatan Palas Hipni yang turut membantu proses pembayaran biaya kelahiran anaknya.

Bakal calon Bupati Lampung Selatan Hipni bersama istri Yuti Ramayanti, mendatangi kediaman pasutri itu, untuk melihat secara langsung kondisi sang bayi pada Jumat (14/2/2020). Hipni pun diberikan kepercayaan oleh pihak keluarga untuk memberi nama untuk sang bayi, dengan nama Ratumas.

Ratna pun sempat menceritakan sejak proses awal dirinya melahirkan. Di mana, pada tanggal 7 Februari dirinya diantar oleh seorang bidan ke RSUD Bob Bazar. Ratna pun sempat diinfus. Namun, tiba-tiba, seorang perawat menganjurkan agar proses kelahiran dipindahkan ke RSAI Hidayah Ibu. Alasanya biaya perawatan di RSUD Bob Bazar mahal.

"Betul, saat itu kami menggunakan kartu KIS tetangga. Katanya tidak bisa, nah dianjurkanlah sama orang RSUD ke dr Eni (RSIA Hidayah Ibu). Karena sudah nggak kuat, ya ngikut-ngikut saja dan tandatangan administrasi," jelas Ratnawati.

Usai melahirkan, dirinya diminta biaya administasi kelahiran dengan besaran Rp7 juta. Karena tidak bisa membayar biaya itu, bayinya pun tidak diperkenan pulang selama sekitar 6 hari.

"Selama di sana, kita juga dibebankan biaya menginap permalam Rp450.000, dengan tenggat waktu nambah tiga hari. Untung saja ada pihak-pihak yang peduli dan membantu, salah satunya pak Hipni, kita sangat bersyukur. Makanya, kami juga meminta beliau untuk berkenan memberikan nama kenapa bayi kami," tuturnya.

Sementara itu, Hipni menceritakan, dirinya mendapatkan laporan terkait dengan kondisi bayi pasutri di Desa Canggu itu, langsung dari ayah sang bayi dengan cara menghubungi melalui sambungan telepon. Mengetahui itu, Hipni pun langsung bergerak untuk membantu keluarga itu.

"Ini misi kemanusian, makanya kita siap untuk membantu masyarakat," kata Dia.

Ia pun menyayangkan, kenapa pihak rumah sakit Bob Bazar Kalianda tidak melayani Ratnawati, katanya sempat diberikan infus tapi putus dan dibawa ke dr Eni.

"Ini yang kita sayangkan, kok bisa begitu. Katanya, biaya berobat gratis. Seyogyanya siapapun masyarakat harus mendapat pelayanan kesehatan seperti yang telah diatur dalam undang-undang," terangnya. (*)

  • Editor : Mita Wijayanti