• Selasa, 25 Februari 2020

Filosofi Air

Jumat, 24 Januari 2020 - 07.51 WIB - 23

Zainal Hidayat, SH.

Bung Kupas - Menjadi pemimpin atau pimpinan atau orang nomor satu di manapun tempatnya, selalu menjadi dambaan dan cita-cita setiap orang. Dengan menjadi pemimpin maka seseorang akan disegani, dihormati dan bahkan ditakuti. Pemimpin menjadi sebuah prestise sekaligus prestasi, dalam perjalanan kehidupan seseorang.

Tidak heran, jika ada orang menempuh berbagai cara untuk bisa menduduki kursi pimpinan. Namun tidak sedikit pula orang yang menghindar menjadi pemimpin, karena pertanggungjawabannya yang berat baik saat selesai menjabat nanti maupun saat di akherat kelak.

Saat memangku jabatan tertinggi, secara otomatis berbagai fasilitas mulai dari penghasilan dan hak-hak lainnya akan terjamin. Walaupun terkadang tidak sedikit pemimpin yang terjebak masalah hukum, akibat tergiur dengan iming-iming menyesatkan yang umumnya ditawarkan oknum pengusaha.

Sebagai gambaran, sejak berdiri pada Desember 2002 lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat telah memproses 119 kepala daerah yang tersandung kasus korupsi. Sebanyak 119 kepala daerah yang terjerat kasus korupsi tersebut berasal dari 25 provinsi berbeda.

Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Sudah saatnya pemimpin-pemimpin saat ini dan kedepan, untuk merubah paradigma yang selama ini sering menjerat sejumlah pemimpin hingga masuk jeruji besi. Harus ada pembaharuan dalam memimpin, sehingga bisa muncul pemimpin-pemimpin yang merakyat sekaligus memiliki kharisma.

Saya teringat dengan lima filosofi air yang disampaikan Andra Donatta, Personal Development Coach, yang setidaknya bisa dijadikan panduan seorang pemimpin saat ini dan ke depan.  

Pertama, air mengalir ke tempat yang rendah. Maknanya adalah ilmu yang Allah SWT titipkan hanya akan mengalir ke pemimpin yang memiliki sifat rendah hati.

Kedua, air saat dilempar batu akan membentuk riak, namun akan kembali datar tanpa bekas. Maknanya, seorang pemimpin boleh merasa kesal atau marah, namun jangan mudah sakit hati hingga membekas pada orang yang menyakiti kita.

Ketiga, air itu bentuknya mengikuti wadah yang menampungnya. Bermakna, seorang pemimpin perlu fleksibel dan adaptif terhadap perubahan. Fleksibel itu berbeda dengan plinplan loh.

Keempat, tanpa air kita kekeringan, kebanyakan air kita kebanjiran. Bermakna, seorang pemimpin perlu membuat keseimbangan saat memimpin teamnya. Bukan hanya terfokus pada pekerjaan, namun juga berfokus pada sisi personal tim.

Terakhir, air memiliki sifat alamiah mendinginkan atau memadamkan. Maknanya, jadilah pemimpin yang mampu mendinginkan suasana dan memadamkan konflik dan amarah tim, bukan malah menyulut amarah. Lima filosofi air tersebut setidaknya bisa menjadi panduan awal, sehingga para pemimpin ke depan bisa dicintai rakyatnya dan membawa kedamaian serta ketenangan bagi yang dipimpin. (*)

  • Editor : Mita Wijayanti

Berita Lainnya